Mengandung Bakteri, Kementan Musnahkan 6 Ton Benih Jagung Asal India

Pemusnahan Benih Jagung Asal India
(Pemusnahan benih jagung mengandung bakteri berbahaya asal India. Image : Merdeka)
Pomidor.id – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Karantina Pertanian Bandar Udara Soekarno-Hatta memusnahkan 6,1 ton benih jagung asal India. Pemusnahan dilakukan karena benih tersebut positif mengandung bakteri yang belum pernah ada di Indonesia, dengan kategori Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) A1 bernama Pseudomonas Syrungae Pv Syrungae (PSS).

Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil, mengatakan benih jagung asal India yang masuk lewat Bandara Soekarno – Hatta akhir tahun lalu ini memiliki dokumen resmi dan lengkap dari negeri asal. Namun setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, hasilnya benih tersebut ternyata tidak lolos dalam verifikasi perkarantinaan Indonesia.

“Ini merupakan bentuk komitmen kami menjaga pertanian dalam negeri dari ancaman OPTK, terlebih bakteri ini belum pernah ada di Indonesia. Selain merusak produksi jagung dalam negeri, bakteri ini juga sangat berbahaya karena dapat menyerang berbagai jenis family tanaman lain“ ujar Jamil saat pemusnahan di Instalasi Karantina Pertanian, Balai Besar Soekarno Hatta, Sabtu (30/3).

Menurut Jamil bekteri PSS akan sangat berbahaya bagi kinerja petani dalam berproduksi. Hal ini karena berpotensi mengurangi produksi jagung secara signifikan hingga 40% dari hasil panen.

Apabila bakteri tersebut tersebar, potensi kerugiannya diperkirakan mencapai Rp. 11 Trilyun per tahun. Angka tersebut belum termasuk biaya pengendalian yang harus dikeluarkan pemerintah. Hal ini tidak hanya mengancam ketahanan pangan nasional tetapi juga pendapatan 6,7 juta keluarga petani jagung di Indonesia.

Baca Juga : Barantan Denpasar Sita Benih Sayuran Ilegal Asal Tiongkok

“Luas pertanaman jagung Indonesia mencapaj 3,35 jt ha, dengan produksi 3,4 ton per ha. Apabila kemampuan berproduksi tanaman diestimasi berkurang hingga 40%, maka total kehilangan produksi bisa mencapai 4,5 juta ton,” papar Jamil.

Dengan harga per ton Rp. 2,5 jt, lanjutnya, maka akumulasi kerugian mencapai Rp. 11 Trilyun.

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Sumarjo Gatot Irianto, mengapresiasi langkah Karantina Pertanian yang segera memusnahkan benih jagung asal India yang mengandung bakteri berbahaya tersebut.

Ia mengatakan PSS merupakan bakteri yang sangat berbahaya karena termasuk penyakit yang belum ditemukan di Indonesia. Pengendaliannya tidak dapat dengan cara perlakuan, sehingga harus dimusnahkan dengan dibakar.

Gatot juga mengatakan Indonesia saat ini sudah memiliki kemampuan memproduksi benih berkualitas. Karena itu ia menghimbau semua pihak agar memanfaatkan benih lokal. Sebab, selain mendukung terciptanya lapangan kerja, penggunaan benih lokal merupakan wujud dari kecintaan terhadap produk dalam negeri.

Baca Juga : Bawang Putih yang Ijin Impornya Diselewengkan Juga Bawa Penyakit

Benih jagung yang mengandung PSS tersebut didatangkan oleh PT Metahelix Life Sciences Ltd. Wakil perusahaan, Rori Sutanto, mengatakan pihaknya menerima dengan legowo pemusnahan benih jagung itu sebagai pelajaran ke depannya agar lebih berhati-hati. Apalagi pemusnahan dilakukan demi melindungi pertanian dalam negeri.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan