Musim Hujan, Petani Sayur Terbebani Membengkaknya Biaya Perawatan

Petani Sayur Lasdri
(Lasdri dan tanaman seladanya. Image : Pomidor)
Pomidor.id – Musim penghujan yang tak kunjung berakhir, membawa masalah sekaligus kegundahan bagi petani sayur di Batu. Akibat intensitas hujan yang turun hampir tiap hari, tak hanya menyebabkan tanaman sayur yang mereka tanam rusak. Tapi juga merembet ke biaya perawatan yang membengkak.

Hal itu pula yang dialami Dwiwarsono, salah satu petani sayur daun selada di desa Sumberejo, Kecamatan Batu, Kota Batu.

Menurutnya, di musim penghujan seperti sekarang ini, petani selalu dipusingkan dengan masalah biaya perawatan yang pasti melonjak dibandingkan biasanya. Contohnya saja, biaya penyemprotan pestisida.

Muat Lebih

“Kalau biasanya tanaman selada hanya di semprot seminggu sekali, di musim penghujan penyemprotan harus dilakukan seminggu dua kali. Karena kalau tidak, tanaman akan membusuk kemudian mati dan petani tidak bisa panen,” kata Dwi yang lebih akrab dipanggil Lasdri.

Baca Juga : Petani Keluhkan Harga Cabai yang Terus Merosot

Ia juga direpotkan dengan banyaknya gulma yang tumbuh subur di musim hujan. Ia harus sering-sering melakukan pembersihan gulma agar sayur yang ia tanam tumbuh optimal. Hal ini tentunya turut menyita waktu dan tenaga.

“Belum lagi harga obatnya mahal dan terus naik tidak pernah turun. Harga obat yang lumayan bagus sekitar Rp 22 ribu. Itu pun hanya dipakai empat sampai lima kali semprot sudah habis dan harus beli lagi,” keluhnya.

Meski diakui Lasdri, harga semua sayuran di musim penghujan mengalami kenaikan harga, tapi dari sisi produksi justru jauh menurun akibat banyak tanaman yang mati.

“Di luar musim penghujan harga selada 4-5 ribu rupiah. Tapi pada saat musim hujan, harganya bisa naik menjadi tujuh ribu rupiah,” sebutnya.

Panenan Selada Merosot di Musim Hujan
(Meski harganya lebih tinggi di musim hujan, namun hasil panen selada lebih maksimal di musim kemarau. Image : Pomidor)

Baca Juga : Menyongsong Rupiah dengan Cabai Keriting

Terkait hasil yang diperoleh, Lasdri merasa lebih menguntungkan ketika musim kemarau. Pada musim kemarau, pertumbuhan tanaman bagus dan beratnya bisa maksimal sehingga bisa dijual semua.  Sedangkan di musim hujan banyak tanaman yang rusak, sehingga tidak semua tanaman bisa terjual meskipun harganya lebih mahal.

“Di musim kemarau, sekali panen biasanya bisa mencapai 8 kwintal. Tapi di musim hujan bisa turun drastis, sampai separuhnya,” ungkapnya. (ANC)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan