Musim Hujan Sulitkan Petani Bunga Krisan

Minjon, Petani Bunga Krisan
(Minjon di lahannya yang ia tanami bunga Krisan. Image : Pomidor)
Pomidor.id – Intensitas curah hujan tinggi yang hampir tiap hari mengguyur kota Batu dalam beberapa bulan terakhir, tidak hanya menggelisahkan petani sayur, tetapi juga petani bunga krisan. Pasalnya di musim penghujan, bunga yang juga dikenal dengan nama seruni ini rawan rusak bahkan mati.

Ini pula yang dialami, Sumari, salah satu petani bunga krisan desa Sumberejo, kecamatan Batu, Kota Batu. Apalagi ia membudidayakannya di lahan terbuka.

“Tiba musim hujan petani selalu punya ketakutan tersendiri. Takut tanamannya banyak yang rusak, termasuk petani bunga. Karena kalau bunganya jelek, bisa-bisa petani tidak dapat uang,” aku pria yang lebih akrab disapa Minjon tersebut.

Menurutnya, pada musim hujan tanaman krisan rentan terserang jamur, khususnya pada bagian daun. Daun yang terserang jamur akan berubah warna menjadi kuning kecoklatan dan pada akhirnya membusuk.

“Air hujan yang mengenai bunga krisan yang belum mekar juga cepat membuatnya busuk,” jelasnya.

Oleh karenanya, diperlukan perawatan ekstra dengan menyemprotkan obat-obatan kimia agar tanamannya bisa bertahan.

“Kalau hujan obatnya ditambah. Yang biasanya seminggu sekali, kalau hujan jadi seminggu dua kali,” ujar Minjon.

Hal ini yang menyebabkan biaya perawatan pada musim hujan jadi membengkak, imbuhnya.

Baca Juga : Peluang Bisnis Ekspor Krisan Masih Sangat Besar

Sementara dari sisi panen juga berkurang. Di luar musim hujan, sekali panen menghasilkan 150 ikat. Tapi pada saat musim hujan hanya bisa panen kurang lebih 100 ikat.

“Harganya 4-5 ribu rupiah per ikat dijual ke tengkulak,” ucapnya.

Musim Hujan Bunga Krisan Mudah Rusak
(Bunga krisan mudah rusak jika terus menerus terguyur hujan. Image : Pomidor)

Ia menambahkan, oleh tengkulak biasanya dijual lagi ke Surabaya. Kendati demikian, dibandingkan dengan sayuran, menanam bunga Krisan masih lebih menguntungkan. Karena harga Krisan lebih stabil dibandingkan harga sayuran.

“Enaknya, harga Krisan stabil. Kalau sayuran kadang mahal. Tapi kalau sudah anjlok ya anjlok harganya. Biasanya 8 ribu, bisa jadi hanya dihargai seribu,” katanya.

Baca Juga : Kembangkan Bunga Krisan, Indonesia Gandeng Jepang dan Belanda

Untuk perbanyakan Krisan, urai Minjon, bisa dilakukan dengan cara stek batang.

“Sebenarnya krisan ini tidak pernah mati. Tinggal di stek kemudian ditanam lagi. Meski usianya sudah dua tahun kalau yang punya bersihan, tanaman krisan bisa tetap hidup,” terangnya.

Krisan sudah bisa dipanen sejak usia 3-4 bulan. Setelah itu barus bisa dipanen seminggu dua kali, pungkasnya. (ANC)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan