Pengamat : Pangkas Rantai Distribusi Serta Dorong Efisiensi Peternak Sapi

Pangkas Rantai Distribusi Sapi Lokal
(Peternakan sapi lokal. Panjangnya rantai distribusi membuat harga daging sapi produksi peternak lokal sulit bersaing dengan daging impor. Image : ist)
Pomidor.id – Kesepakatan IA – CEPA yang salah satu poinnya membebaskan bea masuk untuk sapi impor dari Australia ke Indonesia harus disikapi dengan positif. Walaupun akan ada penetapan batasan untuk jumlah sapi impor yang tidak terkena bea masuk, pemerintah sebaiknya tetap memangkas rantai distribusi dan juga mendorong efisiensi beternak bagi para peternak sapi lokal.

Demikian dikatakan peneliti Center for Indonesia Policy Studies (CIPS), Assyifa Szami Ilman dalam keterangan tertulis. Menurutnya, panjangnya rantai distribusi daging sapi lokal memengaruhi harga daging sapi tersebut di pasaran. Hal ini terjadi karena munculnya biaya-biaya tambahan, seperti biaya transportasi. Daging sapi lokal melewati tujuh hingga sembilan tahapan sebelum sampai di tangan konsumen.

“Rantai distribusi dimulai dari peternak yang menjual sapi ke pedagang berskala kecil atau ke feedlot. Kemudian berlanjut ke pedagang berskala besar, pedagang regional, pedagang grosir di rumah potong hewan, pedagang grosir di pasar, pedagang eceran hingga ke konsumen. Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah karena biaya-biaya tersebut pada akhirnya harus ditanggung oleh konsumen,” jelasnya.

Baca Juga : Kesepakatan Perdagangan Bebas Indonesia-Australia Dikritik Keras

Sementara itu, sistem distribusi daging sapi impor hanya membutuhkan maksimal dua titik distribusi untuk mencapai konsumen. Rantai distribusi ini tercipta karena daging sapi impor merupakan produk siap masak yang tidak membutuhkan tempat penggemukan hewan, rumah potong hewan dan para pedagang di tempat penampungan ternak sebelum dapat dikonsumsi.

“Selain itu, pengembangan ternak sapi di Indonesia juga seringkali menghadapi tantangan, seperti kurangnya kapasitas peternak serta minimnya penguasaan mereka terhadap teknik ternak dan teknologi yang efisien,” kata Ilman.

Ilman memaparkan, efisiensi peternakan dapat dimulai dengan adanya modernisasi praktik peternakan yang berfokus pada minimalisasi biaya produksi. Sebagian sudah ada yang memodernisasi alat pemotongan. Namun ada juga peternakan lain di Indonesia yang meski sudah melakukannya, masih harus tetap mengeluarkan biaya produksi yang mahal. Ini karena memang minimnya skala keekonomian peternakan mereka (karena sedikitnya jumlah sapi dalam satu peternakan).

Baca Juga : Gandeng UGM dan IPB, Kementan Kembangkan Sapi Belgian Blue

Selain itu, inovasi di bidang pakan ternak juga perlu gencar dilakukan. Karena peternak tidak memiliki kapasitas untuk berinovasi, perlu kerjasama antara peternakan dengan lembaga penelitian di bidang teknologi. Contoh yang sudah ada adalah kerjasama serupa di Sumatera Utara antara peternak dengan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi).

Terakhir, program yang menunjang pengelolaan resiko di industri peternakan sapi perlu terus digalakan. Satu contoh yang telah dijalankan adalah Fasilitas Asuransi Usaha Ternak Sapi yang telah digalakan oleh Kementerian Pertanian.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan