border=

Peternak Lokal Khawatirkan Membanjirnya Daging Impor Asal Australia

Peternak Lokal Khawatir IA-CEPA
(Peternakan sapi lokal di Desa Jatisari, Pakisaji, Kabupaten Malang. Image : Pomidor0
Pomidor.id – Perjanjian perdagangan bebas Indonesia-Australia (IA-CEPA) yang ditandatangani pekan lalu, mulai mencemaskan para peternak lokal. Perjanjian itu dianggap lebih banyak merugikan Indonesia, khususnya di sektor pertanian subsektor peternakan sapi.

“Masuknya daging atau sapi impor ke Indonesia tentunya berdampak pada peternak lokal. Karena dengan banyaknya daging atau sapi impor yang masuk ke Indonesia akan berdampak langsung pada daya jual pada sapi lokal,” ujar Muhammad Sueb, salah satu peternak sapi di desa Jatisari, kecamatan Pakisaji, kabupaten Malang, Rabu (13/3).

Dalam IA-CEPA, bea masuk daging sapi dari Australia akan berkurang menjadi 2,5%. Bea masuk itu bahkan akan dihapuskan setelah 5 tahun ditandanganinya perjanjian. Sedangkan untuk impor sapi hidup, akses bebas tarif diberlakukan bagi 575 ribu ekor sapi jantan. Jumlah itu akan bertambah menjadi 700 ribu setelah 6 tahun perjanjian.

 border=

Menurut Sueb, jika pemerintah membuka terlalu lebar masuknya sapi dari luar, akan menyebabkan daya saing peternak lokal menurun.

“Inilah yang banyak dicemaskan para peternak. Karena otomatis omzet mereka juga akan berkurang,” sebutnya.

Baca Juga : Kesepakatan Perdagangan Bebas Indonesia-Australia Dikritik Keras

Lebih lanjut diakui Sueb, untuk sistem beternak sapi di Australia memang lebih canggih, modern, dan efisien. Sulit bagi peternak lokal bersaing head to head dengan peternak asal negeri kangguru itu. Karenanya ia berharap peternak lokal bisa diberikan penyemangat dan insentif yang memudahkan mereka mengembangkan usaha peternakannya.

“Harapannya nanti ada program dari pemerintah dan bantuan pemerintah untuk peternak kecil yang ada di Indonesia. Mulai dari modal, obat-obatan, teknologi dan juga penjualannya, agar produk mereka bisa bersaing,” pintanya.

“Mudah-mudahan pemerintah ke depan nanti ada program maupun bantuan yang sekiranya pro rakyat dan bisa membantu untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, khususnya para peternak lokal,” ucapnya.

(Mumammad Sueb, Kepala Desa Jatisari, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Ia khawatir perjanjian IA-CEPA, khususnya di sektor pertanian subsektor peternakan, akan memukul industri peternakan sapi lokal. Image : Pomidor)

Baca Juga : Panjangnya Rantai Distribusi Sebabkan Harga Daging Sapi Lokal Mahal

Selain itu menurut pria yang juga menjabat sebagai kepala desa Jatisari tersebut, kendala yang kerap dikeluhkan peternak adalah ketidakstabilan harga. Terkadang harga bisa sangat bagus, seperti pada saat musim idul adha atau menjelang idul fitri. Tapi juga bisa anjlok sehingga merugikan peternak.

“Tidak ada yang menjamin terkait harga sehingga hal ini menjadi kendala bagi peternak. Karena selama ini kita mengikuti harga pasar,” pungkasnya. (ANC)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan