Thailand Khawatir Oversupply Buah-buahan Berimbas Jatuhnya Harga

Thailand Khawatirkan Oversupply Buah-buahan
(Kendati permintaan durian asal Thailand terus meningkat, khususnya dari China, namun produksi yang terlalu berlebih tetap saja mengkhawatirkan. Sebab hal ini berpotensi merusak harga dan menurunkan pendapatan petani. Image : Phuket News)
Pomidor.id – Perkiraan oversupply buah-buahan dari kebun-kebun petani tahun ini mengkhawatirkan para pejabat di Kementerian Pertanian Thailand. Pasalnya, hal ini dapat berimbas pada jatuhnya harga, seperti yang pernah dialami komoditas nanas tahun lalu.

Badan Ekonomi Kementerian Pertanian Thailand memperkirakan akan terjadi oversupply buah-buahan yang cukup signifikan tahun ini. Sekitar 863.258 ton durian, manggis, rambutan dan klengkeng akan dipanen serentak di Chanthaburi, Rayong dan Tat, tiga propinsi yang dikenal sebagai sentra produksi buah-buahan di Thailand. Angka itu menunjukkan kenaikan 30 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sementarai di propinsi bagian utara, produksi klengkeng juga diperkirakan akan naik 4 persen menjadi 703.355 ton.

Baca Juga : Gara-gara Klengkeng dan Durian, RI-Thailand Bisa Perang Dagang

Ketika buah-buahan itu membanjiri pasar, pemerintah khawatir oversupply akan membuat harga anjlok. Kementerian Perdagangan Thailand menilai kelebihan produksi durian, manggis, rambutan dan kelengkeng berpotensi besar menggerus pendapatan petani.

Dilansir Bangkok Post, Otoritas yang berwenang di negeri gajah putih itu saat ini tengah mendekati para pedagang, eksportir, swalayan besar dan kecil, untuk bersama-sama mencari jalan keluar terkait over produksi tersebut.

Pemerintah berharap eksportir, pengecer dan pedagang grosir dapat membantu menyerap produksi buah-buahan dalam jumlah tertentu dan menyalurkannya ke konsumen lokal maupun asing.

Baca Juga : China Pasar Terbesar Ekspor Buah-buahan Asal Indonesia

Langkah serius Pemerintah Thailand ini berkaca pada apa yang terjadi pada komoditas nanas tahun lalu. Saat itu, oversupply nanas menjadi mimpi buruk bagi petani karena harganya terjun bebas. Nanas yang di tahun 2017 harganya rata-rata 12 baht (Rp 5.350)/kg, anjlok menjadi hanya 3 baht (Rp 1350)/kg di tahun 2018.

Banyak petani yang frustasi dengan harga nanas yang turun drastis ketika itu. Mereka kemudian memutuskan untuk membagi-bagikannya kepada siapa saja yang mau ketimbang harus melihatnya membusuk di ladang.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan