Wagub : Penurunan Kapasitas Waduk di Malang Pengaruhi Produksi Pertanian

Penurunan Kapasitas Waduh Pengaruhi Produksi Pertanian
(Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, didampingi Walikota Batu, Dewanti Rumpoko, saat berkunjung ke Universitas Muhammadiya Malang, Rabu (6/3). Image : Pomidor)
Pomidor.id – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyebutkan saat ini waduk Karangkates dan Waduk Selorejo yang berada di wilayah Malang mengalami penurunan kapasitas akibat pencemaran maupun sedimentasi. Jika terus terjadi, hal ini dapat berimbas pada terganggunya produksi pertanian.

Emil mengatakan, Waduk Karangkates merupakan salah satu waduk besar yang menyediakan air untuk keperluan pertanian dan kebutuhan manusia.

“Saya belum lama ini pergi ke waduk Karangkates yang sebenarnya memiliki kapasitas lebih dari 340 juta meter kubik. Namun sayangnya hari ini daya tampungnya menurun menjadi 270 juta meter kubik,” ujarnya saat memberikan kuliah tamu di Dome Universitas Muhammadiyah Malang, Rabu (6/3).

Menurutnya, saat ini mulai ada kekhawatiran pencemaran di waduk Karangkates. Terutama oleh pesatnya perkembangan algae (ganggang) maupun unsur hara yang berlebihan. Kedua hal ini menyebabkan air di waduk nantinya tidak dapat digunakan untuk kebutuhan manusia dan pertanian.

Baca Juga : Pembangunan Bendungan Salah Satu Kunci Menuju Ketahanan Pangan

“Sampai sekarang kita belum tahu penyebabnya apa. Ada yang mengatakan karena kegiatan perikanan di waduk tersebut. Tapi ada juga yang mengatakan akibat limbah yang mengalir dari kegiatan manusia yang ada di kota-kota di hulu dari sungai Brantas. Tapi ini masih perlu kita verifikasi dulu,” ujarnya.

Ia menambahkan, sungai Brantas akan ditelusuri untuk mempelajari penyebabnya. Setelah itu akan dicarikan solusi yang dapat menjaga kelestarian sungai terpanjang di Jawa Timur tersebut.

Waduk Karangkates
(Bendungan Karangkates. Jika kapasitasnya terus menurun baik itu karena pencemaran maupun sedimentasi, hal ini akan berpengaruh terhadap produksi pertanian. Image : ist)

Selain waduk Karangkates, waduk Selorejo juga mengalami penurunan kapasitas. Dari 60 juta meter kubik, karena proses sedimentasi, kini tinggal separuhnya, 30 juta meter kubik. Kedua waduk, lanjut Emil, sama-sama dibangun di awal tahun 70-an.

“Kalau terus terjadi sedimentasi dan pengerukan tidak mampu menghilangkan itu, maka waduk tersebut akan ditutup,” tegasnya.

Baca Juga : Infrastruktur, Kunci Percepatan Geliat Ekonomi di Pesisir Kabupaten Malang

Namun ia mengingatkan, ditutupnya waduk Selorejo akan berdampak pada berkurangnya penampungan air. Baik ditutup karena kualitasnya jelek atau pun kuantitasnya sudah tidak ada lagi, maka akan berpengaruh terhadap sektor pertanian. Pasalnya, dari data Perum Jasa Tirta 1, sungai Brantas mengaliri 300 ribu hektar sawah.

“Inilah kita harus bisa mengelola kondisi lingkungan dari hulu sampai ke hilir. Dan semakin besar kebutuhan kita akan teknologi dan inovasi untuk mengatasi permasalahan tersebut,” tandas Emil. (ANC)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan