Ketum KTNA : Pertanian Presisi Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Pertanian Presisi
(Pertanian presisi dengan menggunakan alat mesin pertanian berbasis teknologi akan meningkatkan kesejahteraan petani. Image : Phase 1 Vision)
Pomidor.id – Pertanian presisi diyakini mampu meningkatkan efisiensi, produktivitas sekaligus ramah lingkungan. Karena itu, muara dari penerapannya adalah juga untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir, dalam peluncuran bukunya “Pertanian Presisi untuk Menyejahterakan Petani”, di Jakarta, Senin (15/4). Hadir dalam acara tersebut sejumlah mantan menteri pertanian seperti Sjarifuddin Baharsjah (Mentan periode 1993-1998), Justika Baharsjah (Mentan periode 1998-1999), Bungaran Saragih (Mentan periode 2000-2004), Bayu Krisnamurthi (Wamentan periode 2010-2011), serta sejumlah tokoh pertanian lainnya.

Winarno Tohir Bagikan Buku
(Ketua KTNA Winarno Tohir saat menyerahkan buku Pertanian Presisi untuk Mensejahterakan Petani kepada sejumlah tokoh yang hadir dalam acara peluncuran bukunya. Image : Menara 62)

Dalam buku setebal 242 halaman tersebut, ia menjelaskan pertanian presisi tidak harus bergantung pada teknologi tinggi yang butuh investasi besar. Namun lebih pada keakuratan informasi.

Misalnya saja, dalam menentukan masa mulai tanam petani dapat berpedoman pada Kalender Tanam (Katam). Sementara untuk mengetahui kondisi cuaca dan iklim, petani bisa mengakses informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Selain tentunya juga harus ditunjang data-data lainnya seperti luasan lahan pertanian, varietas tanaman, benih/bibit, kandungan hara tanah, irigasi, serangan hama dan penyakit, dlsb.

Menurutnya, untuk tahap pengolahan lahan, sebaiknya tak lagi menggunakan alat sederhana seperti pacul atau cangkul. Tetapi memanfaatkan traktor/hand tractor dan mesin bajak yang sudah banyak tersedia.

“Jarak tanam juga mengadopsi sistem jajar legowo. Untuk manajemen air dapat mengikuti metode macak-macak mengikuti pola System of Rice Intensification (SRI),” ujar Winarno Tohir.

Sementara, untuk menentukan kecukupan kebutuhan hara Nitrogen (N) pada padi, dapat menggunakan alat Bagan Warna Daun (BWD). Menentukan takaran pupuk Phosphat (P) dan Kalium (K), menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) yang dapat mengukur ketersediaan hara P dan K di tanah dengan metode pewarnaan.

Alsintan
(Penggunaan alat mesin untuk membajak tanah jauh lebih efektif ketimbang menggunakan cangkul yang selain memakan waktu, juga membutuhkan tenaga lebih banyak. Image : ist)

Baca Juga : BPPT Kembangkan Teknologi KSA Agar Akurat Hitung Produksi Padi

Yang juga dibutuhkan untuk menerapkan pertanian presisi adalah pemanfaatan teknologi semacam Global Positioning Systems (GPS) dan Geographic Information System (GIS). Sehingga petani dapat menentukan karakteristik lokasi secara spesifik.

“Data GPS menekankan pada ketepatan posisi suatu lahan. Sedang GIS pada geografis atau karakteristik tanah, dll. Dari data GPS dan GIS ini dapat diketahui karakteristik lahan di satu lokasi dengan lokasi lainnya. Meski satu hamparan, belum tentu karakteristik lahan itu sama. Di sinilah pentingnya pertanian presisi,” urai Winarno Tohir.

Sementara untuk teknologi sensor dan Internet of Things (IoT), lanjut Winarno, petani mendapatkan informasi ketersediaan hara tanah, pH tanah, kelembaban tanah, kandungan air tanah, data suhu, curah hujan, cuaca dan iklim. Informasi itu juga meliputi kebutuhan air tanaman, kebutuhan hara tanaman, dlsb. Untuk serangan hama dan penyakit, informasinya bisa didapat dengan drone.

Semua data lapangan yang tersedia dapat dikirim ke server penyimpanan dan pengolahan data melalui internet dengan bantuan teknologi microcontoller. Data ini kemudian diolah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan yang berkaitan dengan aktivitas pertanian di lapangan.

Diagnosa Tanaman dengan Android
(Penggunaan aplikasi untuk mendiagnosa penyakit pada tanaman. Image : ist)

Baca Juga : Startup Agribisnis Dorong Produktivitas dan Kesejahteraan Petani

Tak kalah pentingnya dari itu semua adalah mengkalkulasi paska panennya, terutama harga komoditas. Tanaman jenis apa yang sebaiknya ditanam sesuai dengan kebutuhan pasar sehingga harga jualnya relatif tinggi yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

“Berdasarkan prospek harga dan dikombinasi dengan penerapan pertanian presisi, petani dapat menghitung secara simulasi, berapa keuntungan yang bakal diperoleh sebelum menanam suatu komoditas,” pungkasnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan