PBB Adopsi Usulan Indonesia Tentang Tata Kelola Terumbu Karang Berkelanjutan

PBB Adopsi Usulan Indonesia Tentang Tata Kelola Terumbu Karang
(Terumbu karang sangat penting bagi eksosistem laut mengingat fungsinya sebagai rumah bagi seperempat spesies laut di seluruh dunia. Image : National Geographic)
Pomidor.id – Kebijakan Indonesia terkait sektor kelautan dan perikanan kembali diapresiasi dunia internasional. Hal ini terlihat dari diadopsinya rancangan resolusi Indonesia untuk “Tata Kelola Terumbu Karang Berkelanjutan” yang diajukan dalam Sidang Umum Lingkungan PBB ke-4 (UNEA-4).

Demikian rilis tertulis Kementerian Kelautan dan Perikanan, Senin (1/4). Sebelumnya tahun 2016 pada Sidang UNEA-2, Indonesia berhasil meloloskan Resolusi 2/12, berisi arah kebijakan Terumbu Karang menyongsong 2030. UNEA-4 digelar di Nairobi, Kenya, Jumat (15/3/) lalu.

Sidang UNEA-4 merupakan badan pengambil keputusan tertinggi dunia dalam bidang lingkungan. Sidang ini menghasilkan sejumlah resolusi dan seruan aksi global untuk mengatasi permasalahan lingkungan yang tengah dihadapi dunia saat ini.

Dalam sidang tersebut, Indonesia diwakili oleh Dr. Suseno Sukoyono, Staf Ahli Menteri Bidang Masyarakat dan Hubungan Antar Lembaga, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Suseno menyatakan, resolusi “Tata Kelola Terumbu Karang Berkelanjutan” diusung Indonesia bersama Monako, serta didukung oleh Meksiko, Filipina, dan Korea Selatan. Ini menjadi resolusi pertama yang disepakati oleh negara-negara anggota dari total 23 resolusi yang diadopsi dalam sidang.

Baca Juga : Indonesia Tegaskan Komitmen Pengelolaan Terumbu Karang Berkelanjutan

Resolusi itu mengajak dunia internasional untuk bekerja sama melakukan aksi nyata dalam konservasi dan pengelolaan terumbu karang secara berkelanjutan. Termasuk potensi dampak buruk perdagangan ikan karang hidup untuk konsumsi.

“Salah satu paragraf dari resolusi ini adalah mengajak dunia untuk menangani perdagangan ikan karang hidup untuk konsumsi (live reef food fish trade/ LRFFT), termasuk potensi dampak buruknya.  Perdagangan ikan karang hidup konsumsi ini marak terjadi di negara-negara Asia Pasifik,” ujar Suseno.

Ia menambahkan, resolusi ini juga mendorong negara anggota agar berpartisipasi dalam Global Coral Reef Monitoring Network untuk menyusun laporan tentang status terumbu karang global pada tahun 2020.

Menurutnya, resolusi ini penting bagi dunia. Karena itu diperlukan harmonisasi dan koordinasi antar negara untuk mengimplementasikan kebijakan terkait konservasi dan pengelolaan terumbu karang, baik di tingkat internasional, regional, maupun lokal.

Menindaklanjuti resolusi yang telah diadopsi ini, Indonesia bersama dengan negara pengusung lainnya dan Sekretariat Badan Lingkungan Hidup Dunia telah menyusun kerangka kerja dan tata waktu pengimplementasian aksi terkait.

Baca Juga : Menteri Susi Minta Warga Pesisir Jaga Mangrove dan Terumbu Karang

Sebagai informasi, keberadaan terumbu karang yang dikenal sebagai “hutan hujan” bagi ekosistem laut hanya berada pada kurang dari 1% total area laut dunia. Keberadaan terumbu karang sangat penting bagi ekosistem laut atas fungsinya sebagai rumah bagi seperempat dari seluruh spesies laut di dunia.

Sayangnya dalam beberapa dekade terakhir, dunia telah kehilangan sekitar 50% terumbu karang akibat perubahan iklim dan ulah manusia.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan