Peningkatan Kesejahteraan Petani dengan Inovasi dan Manajemen Paska Panen

Pemanfaatan Padi Unggul Hibrida untuk Peningkatan Kesejahtraan Petani
(Demplot padi hibrida Brang Biji di Desa Banjararum, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Padi ini diperkirakan produktivitasnya hampir dua kali lipat jenis padi lainnya. Image : Pomidor)
Pomidor.id – Luasnya lahan pertanian di Kabupaten Malang, tak banyak berkontribusi bagi peningkatan kesejahteraan petani dan keluarganya jika masih dikelola dengan cara-cara konvensional.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati Malang, Sanusi, saat meninjau demplot padi hibrida di Desa Banjararum, Kecamatan Singosari, Senin (1/4). Di hadapan para petani dari berbagai pelosok Kabupaten Malang, ia mengatakan potensi pertanian di wilayahnya sangat besar. Namun untuk mengoptimalkan potensi tersebut, dibutuhkan banyak inovasi dan manajemen pengelolaan yang tepat agar peningkatan kesejahteraan petani dapat tercapai.

Wabup Malang
(Wakil Bupati Malang, Sanusi)

“Kalau hanya terpaku pada cara konvensional yang diwariskan turun temurun, sulit berharap hidup sejahtera dari bertani. Contohnya menanam padi. Umumnya petani padi menghasilkan panenan 8 ton per hektar. Jika harga gabah Rp 4.500/kg, 1 hektar sawah berarti hanya menghasilkan sekitar Rp 36 juta setiap panen. Itu belum dipotong biaya produksi seperti tenaga kerja, pupuk dan pestisida, dll. Tak banyak sisanya,” ujar Wakil Bupati Sanusi.

Belum lagi, lanjutnya, jika lahan sawah itu sewaan yang musti ada alokasi biaya khusus untuk bayar sewa. Maka akan semakin tipis keuntungan bagi petani.

Baca Juga : Pengembangan Padi Hibrida Dinilai Efektif Tingkatkan Produktivitas

Oleh karena itu ia mendukung upaya Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan untuk mendatangkan benih padi berkualitas demi meningkatkan produktivitas padi. Salah satunya adalah benih padi jenis hibrida Brang Biji yang saat ini tengah ditanam di demplot di Desa Banjararum, Singosari.

“Benih padi hibrida ini memiliki produktivitas hampir dua kali lipat dibanding benih padi biasa. Jadi kalau dari benih padi biasa panenannya 8 ton/hektar, benih Brang Biji bisa sampai 15 ton/hektar. Bahkan kalau bisa 20 ton/hektar, saya akan undang Presiden Jokowi untuk ikut memanennya,” kata Sanusi yang disambut tawa para petani yang hadir.

Benih Padi Hibrida Brang Biji
(Benih padi Brang Biji. Image : Pomidor)

Menurut Wakil Bupati, yang tak kalah penting adalah manajemen pengelolaan paska panen. Pasalnya, hal itu akan menambah nilai ekonomi pada produksinya.

“Padi hibrida biasanya tingkat kerusakannya rendah. Mungkin hanya sekitar 5 persen yang pecah-pecah, jadi bisa disebut beras premium yang harganya bisa mencapai Rp 14 ribu/kg. Untuk pemasarannya, saya akan ajak Dinas Perdagangan untuk membantu. Ke Indomart, misalnya. Meski dilabeli Indomart, tapi tetap akan ada keterangan “Produksi Banjararum”, kalau beras itu diproduksi di sini,” papar Sanusi.

Baca  Juga : Startup Agribisnis Dorong Produktivitas dan Kesejahteraan Petani

Ada pun untuk pengadaan mesin penggilingan dan benih akan dibantu oleh Dinas Tanaman Pangan.

“Nanti untuk mesinnya dibantu separuhnya sama Pak Budiar (Kepala Dinas, red), saya yang tandatangan (alokasi anggarannya, red). Sisanya bisa Bapak-bapak cicil, sekitar Rp 3 juta/bulan. Sedangkan benihnya gratis untuk tanam pertama,” tegas Wakil Bupati. (NOT)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan