Keterbatasan Lahan Penyebab Tingginya Biaya Produksi Padi

Keterbatasan Lahan Salah Satu Penyebab Tingginya Biaya Produksi Padi
(Dengan lahan terbatas, sulit bagi petani padi untuk meningkatkan kesejahteraannya. Image : ist)
Pomidor.id – Biaya produksi padi di Indonesia diperkirakan lebih dari 2 kali lipat dibandingkan negara lain di ASEAN seperti Vietnam. Tingginya biaya produksi yang salah satunya disebabkan keterbatasan lahan ini kemudian berdampak pada produktivitas dan kesejahteraan petani padi di dalam negeri.

“Saya termasuk yang melihat bahwa lahan sempit itu, pasti tidak efisien. Sehingga karena lahan sempit dia (petani) juga sulit mengakses modal. Akhirnya dia tidak mampu meningkatkan produktivitas pada dasarnya,” ujar Ketua Umum Perhimpunan Penggilingan Padi Indonesia (Perhepi) Sutarto Alimoeso, beberapa waktu lalu.

Untuk mengatasi masalah keterbatasan lahan ini, perlu dilakukan perubahan pada pola subsidi. Seperti diketahui, selama ini pemerintah menggelontorkan subsidi melalui sejumlah pola. Baik itu subsidi benih dan pupuk di hulu maupun subsidi bantuan pangan non-tunai untuk konsumen.

Namun menurut Soetarto, sebesar apapun subsidi yang digelontorkan, khususnya untuk para petani di hulu seperti subsidi pupuk, tidak akan bisa berbuat banyak untuk meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas petani.

Baca Juga : Asuransi Usaha Tanaman Padi, Bentuk Kepedulian Terhadap Petani

Ada pun subsidi yang dinilai tepat adalah dengan memberikan insentif harga pada petani. Dengan harga pembelian yang menarik di tingkat petani, akan mendorong semangat petani untuk berproduksi.

Harga yang baik juga memberi ruang bagi petani untuk meningkatkan kesejahteraan dan memperluas lahan garapan baik melalui pembelian maupun menyewa lahan. Dengan lahan yang lebih luas, ke depan, kegiatan produksi petani juga bisa lebih efisien dari segi biaya.

“Sebenarnya kalau ada insentif di harga, mungkin insentif harga itu yang harus menjadi perhatian untuk, mungkin pemerintah membeli mahal, tetapi nanti supaya mereka berproduksi, kalau perlu nyewa lahan kan gitu,” tambahnya.

Ia mengakui, dengan adanya insentif harga di petani akan mempengaruhi harga pembelian yang juga akan berimbas pada harga eceran tertinggi beras.

Baca Juga : Peningkatan Kesejahteraan Petani dengan Inovasi dan Manajemen Paska Panen

Oleh karena itu, untuk menjaga kestabilan harga di konsumen, khususnya konsumen menengah ke bawah, pemerintah bisa menjalankan subsidi seperti yang dilakukan saat ini. Sementara konsumen dengan kemampuan finansial bisa memilih beras dengan kualitas premium yang memang harganya lebih tinggi.

“Kalau menengah ke bawah itulah yang harus jadi titik fokus perhatian pemerintah,” jelasnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan