Perubahan Iklim Pengaruhi Produktivitas Tanaman Kopi

Tanaman Kopi
(Perubahan iklim ekstrem berpengaruh besar terhadap merosotnya produktivitas tanaman kopi. Image : Shutterstock)
Pomidor.id – Perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global dapat menurunkan hasil tanaman secara signifikan. Tak terkecuali tanaman perkebunan seperti tanaman kopi.

Tanaman kopi termasuk tanaman yang rentan terhadap perubahan iklim. Naiknya suhu 1oC saja dapat membuat hasil panen kopi arabika merosot hingga sebesar 137 kg/ha. Sementara kekeringan ekstrem akibat El Nino menurunkan produksi kopi sebesar 10 persen. Peningkatan suhu udara juga berdampak ledakan populasi hama dan penyakit.

Ada pun curah hujan berlebihan yang dikarenakan La Nina juga berpengaruh pada anjloknya produksi kopi hingga 80 persen.

Indonesia sebagai produsen kopi ke-empat terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia, tentu tak luput dari efek perubahan iklim.

Data dari Kementerian Pertanian (Kementan), produksi kopi nasional pada tahun 2016 sebesar 663.871 ton. Tahun 2017 meningkat tipis 668.677 ton. Begitu pula di tahun 2018 yang hanya meningkat tipis, kurang dari 1 persen, 674.636 ton. Sedangkan di tahun 2019 ini, Kementan menargetkan produksi kopi naik sebesar 0,79 juta ton.

Indonesia memiliki potensi besar menggenjot produktivitas kopi rakyat, namun masih banyak kendala yang harus dihadapi. Di antaranya adalah teknik budidaya yang masih tradisional, tanaman banyak yang sudah tua dan regenerasi lamban, kurang memanfaatkan teknologi, belum banyak menggunakan benih unggul, dlsb.

Kendala-kendala tersebut masih ditambah dengan fenomena perubahan iklim global yang membuat produksi tanaman kopi kian sulit diprediksi.

Baca Juga : Produktivitas Kopi Nasional Masih Rendah

Meski demikian, strategi adaptasi terhadap perubahan iklim dapat dilakukan dengan penerapan Good Agricultural Practices (GAP), penggunaan varietas/klon tahan kekeringan,dan penggunaan mulsa organik. Selain itu, perlu lebih banyak pohon penaung dan sistem tumpang sari serta pembuatan rorak dan biopori.

Penggunaan bibit kopi dengan batang bawah klon unggul dengan perakaran kuat mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan penurunan kesuburan tanah. Kopi robusta merupakan jenis kopi yang tahan kekeringan, karena memiliki perakaran yang lebat.

Sektor pertanian berperan positif dalam membantu mengurangi CO2 di atmosfer dengan cara menyerap dan menyimpan karbon dalam biomas tanaman serta meningkatkan kandungan karbon dalam tanah.

Mitigasi Gas Rumah Kaca (GRK) dapat dilakukan dengan pemanfaatan limbah tanaman perkebunan sebagai sumber bahan organik, arang (biochar), pakan ternak, dan sumber bioenergi melalui pengembangan model Sistem Integrasi Tanaman dan Ternak (SITT). Peremajaan tanaman perkebunan rakyat seperti kopi yang sudah menurun produktivitasnya, juga penting untuk meningkatkan serapan dan cadangan karbon.

Baca Juga : Inovasi Balittri Angkat Produktivitas Tanaman Perkebunan

Budidaya Kopi dengan Cara Organik

Salah satu cara budidaya tanaman kopi adalah dengan cara organik dan mengintegrasikannya dengan ternak kambing. Dalam pengelolaan tanaman tersebut, petani memberi pupuk organik saja dengan takaran 10 kg/pohon/tahun dan diberikan 2 kali tanpa pemberian pupuk anorganik.

Integarasi Tanaman Kopi dengan Ternak Kambing
(Petani kopi di Lampung membuat kandang kambing berdekatan dengan tanaman kopi. Cara ini selain memudahkan pemberian pupuk kandang (kotoran kambing) pada tanaman kopi, juga mengoptimalkan lahan. Pasalnya, hasil dari lahan tidak hanya berupa kopi tapi juga kambing. Image : Bumi Petani Lampung)

Pemberian bahan organik dilakukan dengan cara membumbunkannya pada daerah perakaran secara melingkar dengan takaran 5 kg/pohon. Pemberian pupuk ini dilakukan pada awal dan akhir musim penghujan. Model integrasi tanaman kopi dan ternak kambing sudah dilakukan petani kopi di Propinsi NTB, NTT, Lampung, Bali dan Jawa Tengah.

Budidaya konservasi dapat menambah lebih banyak karbon yang dikembalikan ke lahan dan memperlambat laju proses konversi karbon dalam bahan organik menjadi gas CO2. Selain menguntungkan, hasil kopi organik pun mempunyai cita rasa yang lebih nikmat dan ramah lingkungan.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan