Program Kementan Tekan Inflasi dan Stabilkan Harga

Program Kementan Tekan Inflasi dan Stabilkan Harga
(Program Kementan memiliki andil dalam mengendalikan inflasi dan menstabilkan harga bahan-bahan pokok dalam 3 tahun terakhir. Image : ist)
Pomidor.id – Upaya pemerintah dalam meningkatkan ketersedian pangan terus dilakukan melalui berbagai program dan terobosan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Salah satunya dengan menggencarkan program unggulan Upaya Khusus (Upsus) produksi Padi, Jagung, Kedelai dan hortikultura.

“Kami juga memiliki program SIWAB (Sapi Indukan Wajib Bunting) pada peternakan yang mampu meningkatkan produksi pertanian secara signifikan, dan bisa menyediakan ketersediaan pangan dari produksi dalam negeri,” papar Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementan, Ketut Kariyasa, Rabu (22/5) mengenai program Kementan.

Menurut Kariyasa, kedua program Kementan tersebut terbukti secara nyata mampu menambah pasokan ketersedian secara nasional. Lebih dari itu, program ini juga berdampak langsung terhadap stabilitas harga di tingkat konsumen dan mampu menekan inflasi bahan pangan secara signifikan.

“Stabilitas harga juga terjadi setiap tahun. Sekali pun pada hari hari besar keagamaan maupun tahun baru dalam 3 tahun terakhir. Termasuk pada bulan suci Ramadhan yang sedang berjalan saat ini,” katanya.

Baca Juga : Satgas Pangan Kawal Stabilitas Harga Selama Ramadhan-Lebaran 2019

Stabilnya harga, kata Kariyasa, juga menyebabkan posisi inflasi terus menurun setiap tahun. Hal ini dapat dilihat dari kelompok pengeluaran bahan makanan pada tahun 2013 yang masih sangat tinggi, yakni mencapai 11,35 persen.

“Begitu juga pada tahun 2014. Walau pun sempat mengalami penurunan, tapi kondisinya masih cukup tinggi, yaitu 10,57 persen dan jauh di atas inflasi umum yang mencapai 8,36 persen,” lanjutnya.

Namun, pada tahun 2015 dan 2016, inflasi bahan makanan mengalami penurunan drastis sampai 4,93 persen dan 5,69 persen. Meski kondisi saat itu masih tetap berada di atas inflasi umum dengan angka masing-masing 3,35 persen dan 3,02 persen.

Catatan yang sangat membanggakan terjadi pada tahun 2017. Inflasi bahan makanan saat itu turun sampai 1,26 persen, yang berarti masuk pada level rendah jika dibandingkan dengan sektor lainnya karena berada dibawah inflasi umum, yaitu 3,61 persen.

“Ini tentu saja harus menjadi catatan tersendiri karena masuk sebagai inflasi paling rendah yang pernah terjadi dalam sejarah Indonesia,” katanya.

Baca Juga : Stabilitas dan Ketahanan Pangan Prioritas Awal Presiden Terpilih

Kariyasa menambahkan, keberhasilan ini terus berlanjut baik pada tahun 2018 maupun awal tahun 2019, dimana bahan makanan/pangan mengalami deflasi -1,11 untuk bulan Februari dan -1,01 untuk bulan Maret.

“Penurunan inflasi ini terjadi dari berbagai kontribusi program yang dilakukan Pemerintah melalui Kementerian Pertanian saat ini,” terangnya..

Sedangkan program pembenahan rantai pasok dan distribusi pangan mampu berdampak pada harga jual produk yang diterima petani menjadi tetap menarik. Disisi lain, konsumen juga dapat membeli pangan dengan harga yang terjangkau sehingga inflasi tetap terkendali.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan