50 Tahun Dilarang, DDT Masih Berdampak Pada Ekosistem Air Tawar

50 Tahun Dilarang, DDT Masih Berdampak Pada Ekosistem Air Tawar
(Budworm City atau “Kota Ulat Cemara” yang dibangun tahun 1950 di dekat danau Upsalquitch, New Brunswick, Kanada, menjadi titik berangkat penyemprotan DDT di kawasan tersebut. Image : Forest Protection Canada)
Pomidor.id – Penggunaan pestisida DDT yang dilarang lebih dari setengah abad yang lalu, ternyata residu kimianya masih terdeteksi pada ekosistem air tawar seperti danau. Bahan kimia beracun ini terus berdampak pada rantai makanan di dalam danau tersebut.

“Apa yang pernah dianggap sebagai krisis lingkungan di tahun 1950-an hingga 1970-an, ternyata tetap menjadi masalah saat ini,” ungkap Josh Kurek, asisten profesor di Jurusan Geografi dan Lingkungan di Universitas Mount Alllison, Kanada.

Josh Kurek bersama beberapa rekannya mengadakan penelitian tentang dampak DDT (diklorodifeniltrikloroetana) pada ekosistem air tawar, puluhan tahun setelah digunakan sebagai pembasmi serangga tanaman.

Muat Lebih

“Puluhan tahun aplikasi insektisida yang intens pada hutan konifer (hutan yang didominasi vegetasi berdaun jarum seperti pinus dan cemara), meninggalkan jejak residu yang sangat kuat. Hal ini dapat dijumpai di hutan-hutan di wilayah timur daratan Amerika Utara,” ujarnya dalam makalah yang dipublikasikan The journal Environmental Science and Technology.

Di pertengahan abad ke-20, otoritas kehutanan mulai menggunakan insektisida DDT untuk mengendalikan populasi hama di seluruh hutan di Amerika Utara. Selama lebih dari dua dekade, DDT disemprotkan secara intensif dari pesawat ke hamparan pepohonan yang terserang hama ulat cemara. Hama ini merupakan hama pengganggu utama di hutan-hutan konifer.

Residu DDT ini menyebar dan hanyut ke daerah aliran sungai yang bermuara ke sejumlah danau. Bahan kimia berbahaya ini kemudian terakumulasi di dasar danau-danau tersebut.

Penyemprotan DDT Melalui Pesawat
(Penyemprotan DDT melalui pesawat. Bahan kimia berbahaya yang terdapat dalam insektisida ini merusak ekosistem air tawar dan mampu bertahan meski sudah tidak pernah digunakan lagi selama lebih dari 50 tahun. Image : UPI)

Baca Juga : Residu Pestisida Kimia Terdeteksi Menyebar ke ASI

Protes pemerhati lingkungan karena efeknya juga membunuh satwa liar, membuat DDT lalu dilarang sama sekali untuk digunakan pada tahun 1972. Namun menurut penelitian terbaru, residu kimianya masih bertahan dan membahayakan lingkungan sekitar.

Ini diketahui setelah para ilmuwan mengumpulkan sampel sedimen dari dasar lima danau terpencil di utara dan tengah New Brunswick, Kanada. Analisis inti sedimen dasar danau menunjukkan, seperti yang sudah diperkirakan, tingginya kadar DDT pada lapisan-lapisan tersebut terjadi sejak 1960-an dan 1970-an. Para peneliti juga mengukur tingkat kandungan DDT dan produk samping toksiknya dalam sedimen yang lebih baru.

Dalam sedimen yang baru tersebut, tingkat racun bertahan melebihi ambang batas aman secara biologis. Para ilmuwan kemudian mengukur korelasi antara tingkat residu DDT dengan populasi kutu air. Ada keterkaitan antara berkurangnya kutu air yang menduduki posisi mata rantai terbawah di danau dengan peningkatan produksi ganggang.

Ulat Cemara
(Ulat cemara, hama utama hutan pinus dan pohon cemara di Amerika Utara. Image : Natural Resources Canada)

Baca Juga : Bencana Besar bagi Manusia Jika Serangga Sampai Punah

“Penggunaan DDT secara berlebihan pada sektor pertanian dan kehutanan, sangat merusak,” kata Karen Kidd, profesor di McMaster University, Ontario, Kanada.

“Pestisida ini berdampak pada jaringan mata rantai makanan dan menyebabkan menurunnya jumlah satwa liar di Amerika Utara. Pelajaran yang dapat kita petik, penggunaan pestisida secara terus menerus dapat mengakibatkan perubahan permanen pada ekosistem air tawar,” tegasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan