Ilmuwan Sarankan Bayam Masuk Makanan Terlarang bagi Atlet

Ilmuwan Sarankan Bayam Masuk Makanan Terlarang bagi Atlet
(Popeye dan kaleng bayamnya yang ikonik. Image : Pixabay)

Pomidor.id – Apa yang dilakukan Popeye dengan mengkonsumsi bayam kala membutuhkan energi ekstra dalam waktu singkat, ternyata dapat dibenarkan secara ilmiah. Karena itu, sejumlah ilmuwan menyarankan agar bayam dimasukkan sebagai salah satu makanan terlarang bagi atlet menjelang bertanding.  

Popeye, tokoh kartun pelaut legendaris, terkenal karena kebiasaannya menenggak sekaleng bayam di saat-saat genting atau dalam posisi terjepit. Sayuran kaya akan zat besi itu menjadi kunci kekuatan supernya yang bisa muncul secara tiba-tiba.

Kedoyanan si “sailorman” pada bayam untuk menggenjot kekuatannya, ternyata ada penjelasan ilmiahnya. Bayam terbukti memiliki senyawa-senyawa kimia tertentu yang dapat mendongkrak vitalitas seseorang secara instant.

Menilik fakta ini, sejumlah ilmuwan dari Institut Farmasi di Universitas Freie Berlin, merekomendasikan agar bayam dimasukkan dalam daftar makanan terlarang bagi atlet. Pasalnya, bayam dinilai memiliki hormon ecdysteroid yang dapat meningkatkan kinerja fisik secara signifikan. Terlebih bagi mereka yang rutin melakukan kegiatan fisikal seperti atlet.

Baca Juga : Mengoplos Minuman Energi dengan Alkohol? Situ Waras?

Untuk membuktikannya, para ilmuwan melakukan studi selama 10 minggu dengan sejumlah relawan yang dibagi dalam 4 kelompok.

Kelompok pertama adalah kelompok pengontrol, kelompok kedua menerima plasebo, sedangkan kelompok ketiga dan keempat masing-masing setiap hari diberi asupan dua dan delapan kapsul yang mengandung 100 mg ecdysterone dari ekstrak bayam.

“Ada peningkatan massa otot secara menonjol pada para relawan yang diberi ecdysterone,” demikian catatan studi yang dipublikasikan.

“Peningkatan massa otot ini bahkan sangat relevan jika dikaitkan dengan aktivitas olah raga,” tambah studi tersebut sebagaimana dikutip Euronews.

Baca Juga : Rajin Gowes Cegah Kanker dan Serangan Jantung

Maria Parr, salah satu peneliti, mengatakan bahwa “hipotesisnya adalah kita dapat melihat peningkatan kinerja fisik yang tidak terduga.”

“Kami merekomendasikan kepada WADA (the World Anti-Doping Agency/Badan Anti-Doping Dunia) untuk memasukkan senyawa tersebut dalam daftar doping. Kami pikir adalah tidak fair jika mengkonsumsinya ternyata berpengaruh besar terhadap peningkatan performa fisik (dalam olah raga). Maka itu semestinya dilarang,” jelas Parr.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan