Kementan Ajak Pelaku Perunggasan Nasional Stabilkan Harga Unggas Hidup

Kementan Ajak Pelaku Perunggasan Nasional Stabilkan Harga Unggas Hidup
(Harga unggas hidup di Jatim dan Jateng pada tingkat produsen masih banyak yang di batas bawah harga acuan sesuai Permendag Nomor. 96 Tahun 2018. Image : ist)
Pomidor.id – Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan), mengundang para pelaku perunggasan, pakar, dan unsur pemerintahan terkait untuk membahas situasi perunggasan nasional. Khususnya terkait rendahnya harga unggas hidup / livebird (LB) di tingkat produsen di beberapa daerah yakni Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor. 96 Tahun 2018 mengenai harga acuan pembelian di tingkat petani dan harga acuan pembelian di tingkat konsumen, harga acuan pembelian daging ayam ras untuk batas bawah di tingkat peternak sebesar Rp.18.000 dan harga batas atas sebesar Rp.20.000. Sedangkan harga acuan penjualan di konsumen sebesar Rp. 34.000. Namun demikian di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, harga unggas hidup masih ada di batas bawah tersebut.

“Kami mengharapkan masukan dari para pelaku perunggasan, pakar, dan pemerintah daerah agar hasil pertemuan koordinasi stabilisasi produksi, distribusi dan harga livebird ini dapat menjadi solusi terbaik untuk perunggasan nasional ke depan” ungkap I Ketut Diarmita, Dirjen PKH, Kementan.

Muat Lebih

Baca Juga : Kenaikan Harga Acuan Telur dan Ayam Beri Kepastian Usaha

Pertemuan ini sendiri merupakan lanjutan pertemuan Koordinasi Perunggasan yang telah dilaksanakan secara maraton dari tanggal 10 dan 13 Juni 2019 di Jakarta.

Selain dari Kementan dan Satgas Pangan Mabes Polri, pertemuan juga dihadiri sejumlah stakeholders perunggasan nasional seperti Perhimpunan Insan Perunggasan (Pinsar), Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN), Presidium Perjuangan Peternak Rakyat dan Peternakan Mandiri (PRPM). Juga ada pula perwakilan perusahaan integrator dan peternak mandiri.

Ketut menjelaskan bahwa langkah awal dalam stabilisasi harga LB adalah dengan pengurangan DOC FS broiler sebesar 30% dari populasi telur tetas fertile di seluruh Indonesia yang diawasi oleh tim dari Kementan dan asosiasi peternak. Kemudian memastikan bahwa pengusaha unggas integrator tidak menjual semua ayam yang diternakkan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur dijual ke pasar tradisional di wilayah tersebut.

Baca Juga : Pemberian Asam Humat Percepat Penambahan Bobot pada Ayam Pedaging

Agar terdata, Ketut meminta agar Integrator dan peternak mandiri melaporkan broker unggas komersial yang menjadi langganannya kepada Direktur Jenderal PKH dan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag. Dengan demikian bisnis unggas dapat berjalan dalam tatanan yang baik dan dapat dikontrol jika terjadi gejolak.  Ia juga mengajak Satgas Pangan Mabes Polri ikut mengawasi perilaku para broker dan integrator.

“Pemerintah meminta kepada para pelaku usaha perunggasan agar berupaya menaikan harga LB secara berkala menuju harga acuan sesuai dengan permendag No 96 tahun 2018,” ujar Ketut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan