Perilaku Petani Faktor Utama Kebangkitan Vanili Indonesia

Vanilli Indonesia
(Dengan kualitas kontrol yang ketat, vanili asal Indonesia berpeluang kembali menguasai pasar internasional. Image : Kampus Tani)
Pomidor.id – Indonesia pernah menjadi produsen nomor satu vanili di dunia. Sayangnya, predikat itu sempat hilang akibat rendahnya mutu vanili Indonesia yang disebabkan ulah petani sendiri.

Sejak 2005 sampai 2016, masa keemasan vanili yang juga dikenal sebagai “emas hijau”, terus menurun. Penyebabnya adalah perilaku petani dan pedagang yang hanya mengejar untung tapi mengabaikan kualitas sehingga produk vanili dalam negeri kalah bersaing di pasar global.

“Dulu tanaman vanili ini dikenal sebagai emas hijau. Namun karena ulah petani dan pedagang, kualitas vanili Indonesia merosot tajam. Akibatnya permintaan vanili Indonesia semakin turun,” Wawan Lukman dikutip dari Okezone, Kamis (13/6). .

Wawan Lukman adalah Kepala Kebun Percobaan Sukamulya, Kecamatan Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat.

Baca Juga : Potensi Ekspor Besar, Produksi Kunyit Perlu Dikembangkan

Wawan menjelaskan, modus tersebut di antaranya adalah petani yang memasukkan paku, mercuri ke dalam vanili sehingga berat. Ada juga petani yang memanen vanili belum tepat waktunya.

“Vanili yang berkualitas itu bila dilakukan panen saat usia 8-9 bulan, sehingga kadar vanilinya bisa lebih dari 2 persen. Namun banyak petani yang panen pada usia 4-5 bulan, sehingga kadar vanilinya tidak mencapai angka tersebut. Hal itu dilakukan petani karena takut vanili dicuri orang,” ungkap Wawan.

Namun demikian, kesempatan untuk bangkitnya vanili Indonesia di pasar internasional terbuka kembali setelah dua produsen terbesar, Tahiti dan Madagaskar, mengalami penurunan produksi. Menurutnya, peluang bisnis inilah yang harus dapat dimanfaatkan petani. Apalagi harga vanili kini tengah tinggi.

Untuk diketahui, saat ini harga vanili kering bisa mencapai Rp 5 juta/kg, sedangkan untuk vanili basah mencapai Rp 500 ribu/kg. Untuk mendapatkan 1 kg vanili kering diperlukan 4 Kg vanili basah.

Vanili Kering
(Vanili yang sudah dikeringkan sempurna harganya bisa mencapai Rp 5 juta/kg. Image : Vanili Indonesia)

Baca Juga : Jengkol, Daun Jeruk Purut dan Petai Pun Laku Diekspor

Sementara itu, peneliti utama Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor, Endang Hadipoentyanti, mengatakan selain menjaga standar kualitas yang ketat, juga diperlukan penerapan teknologi yang tepat. Salah satunya adalah penggunaan varietas-varietas vanili yang unggul.

Sejak tahun 2008, Kementerian Pertanian telah mengeluarkan 3 varietas unggul baru yakni Vania 1, Vanilia 2 dan varietas Alor.

Varietas Vania 1 memiliki potensi produksi polong basah 6,53 -8,91 ton/ha, produksi polong kering 1,83-2,56 ton/ha dan kadar vanili 2,8 persen.

Varietas Vania 2 agak tahan terhadap penyakit BBV (F. oxysporum f.sp. Vanillae) dengan produksi polong basah 5,37-8,29 ton/ha, produksi polong kering 1,54-2, 19 ton/ha dan kadar vanilin 2,983 persen.

Sedangkan vanili varietas Alor juga toleran terhadap Penyakit BBV (F. Oxysporum f. Sp. Vanillae). Varietas ini setelah umur 6 tahun memiliki potensi produksi 3,55-4,81 ton/ha/tahun dan kadar vanilin sebesar 2,32-2,85 persen.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan