Terpapar Kanker, Tukang Kebun Australia Tuntut Produsen RoundUp

Terpapar Kanker, Tukang Kebun Australia Tuntut Produsen RoundUp
(Produk Roundup. Image : Phys)

Pomidor.id – Seorang tukang kebun Australia baru-baru ini melayangkan gugatan kepada Bayer’s Monsanto. Dalam gugatannya, ia menuding produsen Roundup tersebut sebagai biang keladi dirinya menderita limfoma non Hodgkin.

Limfoma non Hodgkins (sejenis kanker) yang diderita Michael Ogaliro (54), si tukang kebun, diduga akibat selama 20 tahun ia terus menerus menggunakan herbisida Roundup (glifosat).

Muat Lebih

Gugatan terkait efek buruk pembasmi rumput RoundUp bagi kesehatan ini merupakan yang pertama kali terjadi di Australia.  Padahal gugatan serupa di Amerika Serikat sudah mencapai ribuan.

Baca Juga : Awas, Penggunaan Roundup Tingkatkan Resiko Kanker 40%

Pengacara Ogaliro mengatakan gugatan kliennya mengacu pada keputusan pengadilan AS yang mengharuskan produsen Roundup, Bayer’s Monsanto, membayar kompensasi senilai total USD 2 milyar. Hanya saja, tidak disebutkan berapa jumlah kompensasi yang dituntut Michael Ogaliro. Gugatan itu sendiri diajukan di pengadilan negara bagian Victoria awal pekan ini.

Menurut pengacaranya, tuntutan lebih pada faktor rusaknya kesehatan, hilangnya kemampuan mencari nafkah serta biaya perawatan yang harus ditanggung kliennya akibat penyakit tersebut.

“Produk Roundup berbahaya bagi kesehatan manusia dan tidak layak untuk diperdagangkan secara komersial. Apalagi tanpa peringatan dan petunjuk pemakaian yang tepat,” demikian surat gugatan yang diajukan Carbone Lawyers, dikutip dari Reuters.

Baca Juga : Kalau Rumput Liar Bisa Ngomong …

Namun perwakilan dari Bayer menjawab bahwa mereka bersimpati pada orang-orang yang menderita limfoma non Hodgkins. Namun menuding kanker tersebut semata-mata disebabkan oleh penggunaan herbisida berbasis glisofat, dianggap mengada-ada bahkan mustahil. Sebagai argumennya, perusahaan menyatakan pengalaman selama 40 tahun berproduksi selalu diiringi riset yang memadai dan prinsip kehati-hatian, terutama mengenai efek sampingnya terhadap kesehatan.

Meski sudah mengetahui adanya gugatan, namun pihak Bayer mengaku belum menerima surat tertulis secara resmi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan