Diselimuti Kabut 20 Hari, Harga Sayuran di Jepang Meroket

Diselimuti Kabut 20 Hari, Harga Sayuran di Jepang Meroket
(Kondisi berkabut menyelimuti Kota Tokyo selama hampir 3 minggu. Imaga : Getty Images)
Pomidor.id – Selama sekitar 20 hari Jepang dilanda cuaca berawan dengan suhu rendah. Matahari hanya bersinar tak lebih dari 3 jam setiap harinya, atau yang terendah yang pernah tercatat oleh Badan Meteorologi Jepang sejak tahun 1961.

Minimnya sinar matahari serta hawa dingin ini berdampak langsung terhadap produksi berbagai komoditas pertanian di sebagian besar kepulauan di negeri matahari terbit itu. Harga sayuran di Jepang pun mengalami lonjakan sebagai akibatnya.

Menurut data Kementerian Pertanian Jepang, harga mentimun naik hingga 70%. Begitu pula dengan aneka sayuran lainnya yang kenaikan harganya mencapai rata-rata dua digit di pasar grosir pusat di Tokyo.

Meski demikian, ada juga beberapa jenis sayuran yang harganya malah turun. Bawang merah, lobak putih dan wortel harganya turun karena pulau di utara Hokkaido, sentral produksi sayuran umbi-umbian tersebut, durasi sinar matahari relatif normal.

Baca Juga : Mengutak-atik Iklim Justru Bisa Berakibat Fatal

Penyebab cuaca mendung berkepanjangan dan hawa dingin adalah antisiklon di Laut Okhotsk yang berada di lepas pantai timur Rusia. Antisiklon ini mendorong udara dingin dan lembab ke selatan wilayah Jepang.

Musim hujan di Jepang sendiri biasanya berakhir antara akhir Juni hingga awal Juli. Kemudian diikuti dengan dua bulan cuaca panas dan kelembaban tinggi. Tak hanya mempengaruhi harga sayuran, anomali cuaca tahun ini juga berimbas pada penjualan pakaian musim panas di Jepang.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan