Perkuat Karantina, Kementan Minati Teknologi Bio-Sensing dari Belanda

Perkuat Karantina, Kementan Minati Teknologi Bio-Sensing dari Belanda
(Indonesia menjajaki kerja sama transfer teknologi Bio-Sensing dengan Belanda untuk memperkuat sistem perkarantinaan. Image : Dok Kementan)
Pomidor.id – Sebagai negara kepulauan yang memiliki banyak pintu masuk dan keluar, Indonesia perlu memperkuat sistem perkarantinaannya. Hal ini demi menjaga kelestarian sumber daya alam hayati. Juga menjamin kesehatan masyarakat selaku pengguna akhir produk pertanian.

Dalam keterangan tertulis dari Amsterdam, Belanda, Rabu (24/7), Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian, Ali Jamil, mengatakan pihaknya saat ini tengah menjajaki kemungkinan transfer teknologi Bio-Sensing dari negeri kincir angin itu. Apalagi tantangan yang dihadapi negara-negara Eropa relatif sama, jumlah SDM Perkarantinaan yang terbatas dibandingkan luas wilayah yang harus dijaga.

“Di Pelabuhan Rotterdam di Belanda sebagai satu-satunya pintu masuk benua Eropa, menerapkan teknologi Bio-Sensing untuk pengawasan. Ini yang menjadi perhatian kami,” kata Ali.

Teknologi Bio-Sensing yang digunakan petugas otoritas Karantina Belanda dimaksudkan untuk meningkatkan pengawasan komoditas pertanian yang dilalulintaskan antar wilayah. Teknologi ini digunakan juga untuk melakukan pengawasan ekspor dan impor komoditas pertanian. Sehingga dapat meminimalkan waktu pemeriksaan dan meningkatkan efisiensi serta biaya yang dipergunakan.

“Sangat cocok digunakan oleh petugas Karantina di tempat pemasukan dan pengeluaran utama. Agar pengawasan dapat lebih efisien, efektif dan akurat,” tambah Jamil.

Keinginan ini diapresiasi Pemerintah Belanda dan segera ditindaklanjuti dengan “added value of decision support for potato light blight control in Indonesia”. Ini merupakan klausul tambahan pada pengawasan komoditas kentang kedua negara.

Baca Juga : Dukung Ekspor Pertanian, Indonesia-Iran Siapkan Protokol Karantina

Ke depan, menurut Jamil, bimbingan teknis untuk penerapan teknologi Bio-Sensing akan diperluas untuk komoditas pertanian lainnya.

“Tentunya penguatan SDM dengan kapasitas dan keahlian juga perlu disiapkan. Saat ini sejumlah petugas Karantina Pertanian tengah disiapkan mengikuti tugas belajar jenjang S-2 dan S-3. Dan Bio-Sensing menjadi topik utama penelitiannya,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR RI yang juga menjadi ketua delegasi ke Belanda, Edhy Prabowo, menekankan pentingnya peningkatan pengawasan komoditas yang dilalulintaskan antara kedua negara dengan memberikan notifikasi jika terdapat permasalahan perkarantinaan dimasing-masing negara.

Notify of Non Compliance (NNC) pernah terjadi pada bibit bunga Lili (Lilium sorbone) asal Belanda yang terkontaminasi penyakit yang belum ada di Indonesia, A1 yakni Rhodococus fascians. Benih terkontaminasi virus berbahaya ini masuk di sepanjang tahun 2019 melalui Bandar Udara Soekarno Hatta, Semarang dan Bandung. Tindakan pemusnahan telah dilakukan guna mencegah terjadinya wabah yang dapat mematikan upaya pengembangan Hortikultura di Indonesia.

Pemusnahan Bibit Bunga Lili asal Belanda
(Pemusnahan bibit bunga lili asal Belanda yang mengandung virus berbahaya di Barantan Semarang, Juni 2019. Image : Dok Barantan)

Baca Juga : Barantan Gerak Cepat Antisipasi Melon Berbakteri Asal Australia

Belanda sendiri sebagai satu dari empat negara yang telah menerapkan sertifikat elektronik dalam proses bisnis ekspor komoditas pertanian, menjadi mitra dagang strategis Indonesia. Berdasarkan data dari sistem otomasi perkarantinaan, IQFAST (Indonesian Quarantine Full Automation System) sampai dengan Juni 2019 nilai ekspor komoditas pertanian ke Belanda senilai Rp 603,39 milyar. Masih surplus dibandingkan nilai impor dari Belanda senilai  Rp 273,66 milyar.

Ada pun jenis komoditas yang laris di pasar Belanda adalah  belimbing, durian, jeruk, mangga, manggis, markisa dan buah naga.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan