Prediksi FAO Harga Pangan Turun dalam Satu Dekade Ditanggapi Skeptis

Prediksi FAO Harga Pangan Turun dalam Satu Dekade, Ditanggapi Skeptis
(Benarkah harga pangan global akan turun dalam satu dasawarsa ke depan? Image : Gephardt Daily)
Pomidor.id – Harga berbagai produk pertanian global diprediksi akan mengalami penurunan dalam satu dekade ke depan. Namun prediksi itu dianggap over optimis karena tidak memasukkan berbagai variabel penentu produksi seperti anomali cuaca, perang dagang, serangan hama penyakit, dlsb.

Prediksi harga pangan turun itu disampaikan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dalam laporan resminya pekan ini. FAO menyatakan bahwa kebutuhan pangan global akan meningkat sekitar 15 persen dalam 10 tahun mendatang seiring dengan pertambahan populasi manusia dan makin berkurangnya penduduk dunia yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Meski kebutuhan pangan meningkat, namun produksi pertanian pangan melesat lebih cepat lagi.

“Peningkatan hasil dan intensitas produksi yang lebih tinggi didorong oleh inovasi teknologi sehingga menghasilkan panenan yang banyak. Bahkan ketika luasan penggunaan lahan pertanian global relatif tak banyak berubah,” ungkap FAO.

Dalam laporan tersebut juga dinyatakan bahwa hal ini merupakan kabar baik bagi masyarakat berpendapatan rendah. Hanya saja, jika prediksi harga pangan turun itu benar, tentu tidak mengenakkan bagi produsen (baca : petani). Tak terkecuali bagi petani di negara eksportir terbesar tanaman pangan dunia, Amerika Serikat.

“Harga saat ini belum begitu menggembirakan petani,” kata Jack, Scoville, analis pasar The PRICE Futures Group di Chicago, AS.

“Turunnya harga malah hanya akan membebani mereka,” lanjutnya.

Baca Juga : Trump Janjikan USD 15 Milyar untuk Bantu Petani AS

Menurut Scoville, sebagai negara produsen utama produk-produk pertanian, Amerika Serikat sangat bergantung pada pasar luar negeri. Tetapi di sisi lain, AS juga memiliki peran besar dalam menentukan naik turunnya harga pangan di seluruh dunia. Bahkan saking kuatnya dominasi pada produk pangan, harga di pasar global sesungguhnya adalah cerminan harga di pasar AS sendiri.

“Kami cenderung menjadi penentu harga. Harga jual kami sering kali menjadi patokan harga global,” ujar Scoville.

Terlepas dari itu, perkiraan turunnya harga pangan sesuai laporan FAO, ditanggapi skeptis pelaku industri pertanian di negara Paman Sam. Harga beragam produk pertanian dikenal sangat sulit diprediksi karena sifatnya yang fluktuatif. Cuaca, perseteruan dagang, perang dan serangan hama penyakit dapat mengacaukan pasokan dan permintaan pangan. Ujung-ujungnya, akan berimbas pula pada ketidakpastian harga.

“Segala sesuatunya terjadi begitu cepat. Apa yang hari ini mereka analisa, bisa jadi sudah tak berlaku lagi esok hari,” kata Michael Nepveux, seorang ekonom Federasi Biro Pertanian Amerika.

Perang Dagang Produk Pertanian
(Perang tarif antara AS dan China yang juga menyasar produk-produk pertanian, membuat harga pangan tak mudah diprediksi. Image : Associated Press)

Baca Juga : FAO : Beri Akses Petani Kecil pada Pemanfaatan Bioteknologi

Nepveux mencontohkan flu babi Afrika yang menyebar ke China. Laporan terbaru menyatakan bahwa China kehilangan 20 hingga 30 persen populasi ternak babinya karena wabah tersebut. Jumlah itu lebih besar dari seluruh kawanan babi di AS. Peristiwa ini sempat membuat para ekonom ketar ketir kalau-kalau dampaknya bisa sangat mengerikan pada industri daging.

“Itu akan berpengaruh terhadap asupan protein global di tahun-tahun mendatang. Sayangnya, saya tidak melihatnya pada laporan (FAO) ini,” sambung Nepveux.

Meski demikian, ia tak menampik kebenaran dalam kesimpulan laporan FAO tersebut. Dengan catatan, tidak ada gangguan produksi atau perselisihan dagang dalam skala besar.

Baca Juga : Imbas Perang Dagang, China Pangkas Konsumsi Kedelai untuk Pakan Ternak

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, pertanian di AS maupun di seluruh dunia menunjukkan produktivitas yang lebih tinggi. Setiap tahun, kemajuan pesat sains dan teknologi meningkatkan hasil panen serta pertumbuhan hewan konsumsi yang lebih gemuk dan lebih cepat.

Amerika Serikat sendiri memproduksi lebih banyak makanan daripada yang bisa dikonsumsi. Ini berarti berbagai komoditas makanan tersebut harus diekspor untuk mempertahankan harganya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan