Ekspor Sawit Indonesia ke Rusia Berpotensi Capai 1,1 Juta Ton

Ekspor Sawit Indonesia ke Rusia Berpotensi Capai 1,1 Juta Ton
(Indonesia berpeluang mengekspor 1,1 juta ton minyak sawit ke Rusia. Image : GAPKI)
Pomidor.id – Kebutuhan minyak nabati di Rusia sebagian dipenuhi dari minyak sawit sekitar 1 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, 74,4% atau sekitar 75 ribu ton berasal dari Indonesia. Kebutuhan minyak tersebut selama ini digunakan untuk kebutuhan industri. Andai saja juga memenuhi kebutuhan konsumsi, ekspor sawit Indonesia berpotensi meningkat menjadi 1,1 juta ton pe tahun.

Demikian diungkapkan oleh Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) kepada wartawan saat ditemui di sela-sela kegiatan Festival Indonesia Rusia, di Moskwa, Minggu (4/8).

Dilansir Warta Ekonomi, ia mengungkapkan selama kegiatan tersebut GIMNI memamerkan beberapa produk minyak sawit untuk konsumsi di antaranya virgin red palm oil dan minyak goreng.

Dalam kegiatan tersebut, GIMNI yang ikut berpartisipasi mengadakan demo masak menggoreng kentang dan nasi goreng menggunakan minyak sawit untuk dicicipi oleh masyarakat Rusia yang datang.

“Mereka (masyarakat Rusia) mengaku suka dengan masakah tersebut. Mereka juga mengungkapkan tidak ada satu pun tempat yang menjual minyak sawit,” ujar Sahat.

Menurut Sahat, impor minyak sawit di negara beruang putih ini selama ini untuk kebutuhan industri seperti membuat margarin, kue, kosmetik dan lainnya. Untuk kebutuhan konsumsi minyak nabati, masyarakat menggunakan minyak dari bunga matahari. Itu karena yang beredar di pasaran selama ini minyak bunga matahari.

“Tidak ada minyak goreng (sawit) di Rusia. Selama ini di supermarket nggak ada, yang ada sunflower,” ungkap Sahat.

Melihat sambutan masyarakat Rusia selama kegiatan festival, ada potensi untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dari sawit. Jika untuk kebutuhan industri saja mencapai 700-800 ribu ton per tahun, ditambah kebutuhan konsumsi, Indonesia berpotensi meningkatkan ekspor sawit Indonesia ke Rusia setidaknya menjadi 1,1 juta ton per tahun.

Baca Juga : Presiden Dorong Rusia Tingkatkan Impor Produk Makanan dari Indonesia

Untuk bisa memenuhi pasar konsumsi, menurut Sahat, dibutuhkan langkah komunikasi antara pemerintah Indonesia dengan Rusia (G2G) terlebih dahulu. Langkah ini diharapkan dilakukan oleh menteri baru kabinet Presiden Jokowi periode kedua nanti. Setelah itu, sekitar 6-8 bulan berikutnya, diharapkan minyak sawit untuk kebutuhan konsumsi sudah ada di pasar Rusia.

Warga Rusia Antri Nasi Goreng
(Warga Rusia antri nasi goreng yang digoreng menggunakan minyak sawit di Festival Indonesia Rusia. Selain kebutuhan industri, ekspor sawit Indonesia ke Rusia juga dapat menyasar kebutuhan konsumsi rumah tangga. Image : Detik)

“Kita harapkan pemerintah melakukan Preferential Trade Agreement (PTA) G2G dengan Rusia, setelah itu hasilnya akan kelihatan dalam 8 bulan berikutnya,” ujar Sahat.

GIMNI juga mendukung upaya tersebut dengan melakukan beberapa langkah. Pertama melakukan riset bersama perusahaan riset di Rusia untuk mengetahui ada tidaknya efek samping mengonsumsi minyak sawit. Meski pun riset di Indonesia sudah menyatakan tidak ada dampak berbahaya mengkonsumsi minyak sawit, namun negara Rusia membutuhkan hasil risetnya sendiri.

Kedua, bekerja sama dengan perusahaan publikasi tentang sawit di Rusia, yang dipimpin oleh Dementieva Julia, selaku Chief Editor perusahaan publikasi tersebut. GIMNI dengan perusahaan ini juga telah melakukan kerja sama untuk melakukan publikasi melawan kampanye negatif tentang sawit.

Baca Juga : Pengusaha Tanggapi Serius Sentimen Negatif Terhadap Industri Sawit Nasional

Menurut Sahat, selama ini ada empat perusahaan yang aktif melakukan ekspor ke Rusia, yakni Sari Dumai, Musi Mas, Permata Hijau dan Wilmar. Diharapkan keempat perusahaan tersebut ikut aktif dalam melakukan langkah-langkah tersebut untuk menembus pasar konsumsi.

Keempat perusahaan tersebut juga dapat melakukan kerjasama dengan perusahaan lokal untuk memasarkan minyak goreng sawit ke pasar ritel di Rusia. Caranya bisa menggunakan brand perusahaan di Rusia, untuk minyak goreng sawit asal perusahaan-perusahaan Indonesia tersebut.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan