Produksi Kopi di Kabupaten Malang Terus Menurun

Produksi Kopi di Kabupaten Malang Terus Menurun
(Regenerasi tanaman kopi yang sudah tak lagi produktif perlu segera dilakukan untuk mengembalikan Kabupaten Malang sebagai salah satu daerah penghasil kopi di Indonesia. Image : ist)
Pomidor.id – Kendati luasan lahan tanaman kopi di Kabupaten Malang relatif tak banyak berubah, namun produksinya terus menunjukkan trend penurunan. Penurunan ini disinyalir karena banyak tanaman kopi yang sudah uzur dan tak lagi produktif sehingga memerlukan peremajaan.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang, produksi kopi di Kabupaten Malang, baik arabika maupun robusta, secara kuantitas terus menurun.

Tahun 2016, tanaman kopi arabika menempati lahan seluas 1.270 hektar yang tersebar di berbagai wilayah di Kabupaten Malang. Total produksinya 616 ton. Di tahun 2017, luasan tanaman tetap sama, yakni 1.270 hektar. Akan tetapi produksinya anjlok menjadi hanya 418 ton.

Demikian pula dengan tanaman kopi robusta. Jika di tahun 2016 luasannya 14.947,5 hektar dengan produksi 9.613,24 ton, maka di tahun berikutnya dengan luasan yang sama produksi justru turun menjadi  12.597 ton.

Sedangkan di tahun 2018, rata-rata penurunan kedua varietas tanaman kopi tersebut bahkan mencapai 30 persen.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Moch Rony, mengatakan hal ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Malang. Apalagi tanaman kopi termasuk tanaman perkebunan rakyat yang banyak menopang perekonomian masyarakat kecil.

“Jika tak segera diatasi, akan banyak petani kopi yang beralih ke tanaman lain yang lebih ekonomis. Kami tak bisa mencegah karena kopi banyak ditanam secara swadaya oleh masyarakat, di lahan-lahan milik mereka sendiri. Bahkan ada yang diwariskan dari orang tuanya. Kalau mereka kemudian menganggap tanaman kopinya tidak menguntungkan dan diganti dengan tanaman lain, itu ya hak mereka. Kami tak bisa berbuat apa-apa,” jelas Rony.

Baca Juga : Produktivitas Kopi Nasional Masih Rendah

Namun demikian, lanjut Rony, pihaknya juga tak kurang-kurang melakukan berbagai upaya agar penurunan produksi kopi di Kabupaten Malang dapat dihindari. Salah satunya adalah dengan memberikan bantuan bibit unggul untuk peremajaan tanaman-tanaman kopi yang sudah tua.

“Kami rutin berkeliling ke daerah-daerah penghasil kopi seperti di Ampel Gading, Jabung, Tirtoyudo, Sumber Manjing Wetan, Kromengan, Ngajum dan Dampit untuk memantau kebun-kebun kopi di sana. Jika ada petani yang ingin meremajakan tanaman kopinya, kami bantu menyediakan bibitnya,” kata Rony.

Selain bibit, DTPHP Kabupaten Malang juga siap membantu peralatan. Secara berkala juga ada pelatihan untuk menambah pengetahuan para petani dengan menggandeng kampus-kampus yang ada di Malang.

Kebun Kopi di Dampit
(Banyak tanaman kopi di Dampit yang usianya sudah melewati masa puncak produksi. Image : ist)

Baca Juga : Kopi Nusantara Punya Potensi Besar Tapi Juga Banyak Tantangan

Untuk anggaran berbagai bantuan tersebut, Roni mengatakan sudah ada pos khusus untuk itu, baik dari Pemerintah Kabupaten, Provinsi maupun Pusat.

Meski demikian, bantuan baru dapat diberikan melalui kelompok tani. Tidak perorangan.

“Kelompok tani bisa mengajukan kebutuhan untuk peremajaan tanaman kopinya kepada kami. Nanti akan segera kami tindaklanjuti,” ujarnya.

Rony berharap ke depan tak hanya produksi yang meningkat sehingga Kabupaten Malang kembali menjadi salah satu daerah penghasil kopi nasional. Namun mutu kopi yang dihasilkan juga harus lebih baik. Pasalnya, peluang ekspor kopi masih sangat terbuka lebar. (NOT)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan