Tempat Ideal untuk Panel Tenaga Surya adalah di Lahan Pertanian

Tempat Ideal untuk Panel Tenaga Surya adalah di Lahan Pertanian
(Panel listrik tenaga surya lebih efektif dibangun di daerah lahan pertanian atau peternakan. Image : Oregon State University)

Pomidor.id – Sebuah penelitian belum lama ini mengungkapkan bahwa tempat terbaik untuk membangun panel tenaga surya adalah di lahan-lahan pertanian. Jika saja 1 persen dari lahan pertanian di seluruh dunia dikonversi menjadi pembangkit listrik tenaga matahari, maka daya yang dihasilkan dapat mencukupi kebutuhan listrik global.

“Hasil penelitian yang kami lakukan menunjukkan ada potensi besar penyediaan energi listrik dari kolaborasi antara panel tenaga surya dengan pertanian,” ujar Chad Higgins, seorang profesor ilmu pertanian di Oregon State University, dalam rilisnya.

“Pepatah lama mengatakan, pertanian dapat menyediakan apa saja. Dan itu memang benar, termasuk dalam urusan listrik. 8.000 tahun lalu, petani (di lahan pertaniannya) sudah menemukan tempat terbaik untuk mendapatkan energi sinar matahari di bumi,” imbuh Prof Higgins.

Namun pada kenyataannya, instalasi panel tenaga surya sebagian besar dibangun di daerah gurun yang tandus. Memang ada banyak ruang terbuka serta sedikit awan, akan tetapi suhu di wilayah gurun yang sangat panas dapat membuat panel surya tidak berfungsi secara efisien.

Baca Juga : Energi Terbarukan untuk 139 Negara di Tahun 2050

Sebelumnya, tim peneliti dari Oregon State bekerja sama dengan Tesla memasang lima lajur panel surya di lahan pertanian terdekat. Para ilmuwan mengumpulkan data produksi daya listrik di salah satu lajur setiap 15 menit selama beberapa bulan.

Tim peneliti kemudian mensinkronkan pengumpulan data mereka dengan pengamatan dari pemantau cuaca yang dipasang di sebelah panel listrik tersebut. Mereka membuat katalog suhu udara, kelembaban relatif, kecepatan angin, arah angin, embun dan pengukuran energi matahari yang masuk setiap 15 menit.

Para peneliti menggunakan data yang mereka kumpulkan untuk membangun model yang dapat memprediksi kombinasi kondisi iklim mana yang paling baik bagi panel listrik tenaga surya.

“Ketika udara sejuk, panel bekerja lebih baik,” kata Prof Higgins.

Namun, lanjutnya, efisiensi panel memburuk saat suhu terlalu panas. Begitu pula saat udara terlalu lembab. Kerja panel akan kembali membaik ketika ada angin.

“Panel surya tak ubahnya manusia dan tumbuhan. Akan berfungsi dengan baik di kala udara sejuk, kering dan berangin,” jelasnya.

Baca Juga : 5 Metode Pertanian Ramah Lingkungan

Rekan Higgins, Elnaz Hassanpour Adeh, seorang doktor program rekayasa sumber daya air di universitas yang sama, mengembangkan sebuah model untuk efisiensi fotovoltaik dari suhu udara, kecepatan angin dan kelembaban relatif.

Ia juga menggunakan model tersebut untuk peta satelit yang memantau 17 jenis daratan di permukaan bumi. Beberapa di antaranya adalah lahan pertanian, hutan campuran, daerah perkotaan serta padang rumput (sabana).

Agrivoltaik
(Agrivoltaik, mengintegrasikan panel tenaga surya dengan pertanian. Image : Conservation Magazine)

Model tersebut kemudian dievaluasi kembali untuk menilai potensi agrivoltaik (praktek menanam tanaman di sela-sela panel tenaga surya). Hal ini demi memenuhi proyeksi permintaan energi listrik global yang telah ditentukan oleh Bank Dunia.

Higgins dan Adeh sebelumnya telah menerbitkan penelitian yang menunjukkan bahwa panel surya meningkatkan produksi pertanian di lahan kering dan tidak beririgasi. Hasil penelitian itu mengindikasikan penempatan panel surya di padang rumput atau ladang pertanian dapat meningkatkan hasil panen.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan