Dilema Malaysia Hadapi Lonjakan Permintaan Durian ke China

Dilema Malaysia Hadapi Lonjakan Permintaan Durian ke China
(Anna Teo, salah satu eksportir durian Musang King terbesar di Malaysia. Meski menghasilkan devisa luar biasa, namun keinginan menggenjot produksi durian di negeri jiran itu juga menghadapi banyak tantangan. Image : The Straits Times)
Pomidor.id – Akhir Agustus lalu, untuk pertama kalinya Malaysia mengekspor seluruh duriannya ke China via jalur udara. Malaysia berharap dapat memasok 8 ribu ton durian melalui pesawat setiap tahunnya ke China dengan nilai tak kurang dari USD 111,6 juta.

Derasnya permintaan durian ke China membuat Malaysia kini tengah bersiap-siap menggenjot produksi. Kesepakatan dagang yang ditandatangani kedua negara Agustus tahun lalu, memungkinkan negeri jiran ini untuk mengekspor durian beku langsung ke China.

Malaysia memproduksi sekitar 300 ribu ton durian setiap tahun. Sebagian besar untuk konsumsi dalam negeri.

Muat Lebih

Data Departemen Statistik Malaysia (semacam BPS), ekspor durian di tahun 2018 sebanyak 23.381 ton senilai USD 29,4 juta. 20.793 ton atau 88,9 persen ditujukan untuk pasar Singapura. Hanya 236 ton yang diekspor ke China, itu pun dalam bentuk frozen dan olahan.

Padahal jika dijual dalam bentuk buah segar harganya jauh lebih tinggi. Durian Musang King, misalnya. Durian tersebut adalah varietas premium yang paling mahal. Sekilonya dihargai hingga USD 30 (Rp 435 ribu).

Penjualan Durian Musang King
(Display penjualan durian Musang King. Image : Alamy)

Menteri Pertanian Malaysia, Salahuddin Ayub, mengatakan kementeriannya menginginkan 1.000 ton durian varietas premium memasuki pasar China setiap bulannya. Hal ini akan berkontribusi terhadap nilai ekspor Malaysia senilai USD 120 juta.

Dalam pernyataannya bulan Juni lalu, Salahuddin Ayub juga mengatakan negaranya berambisi menyaingi Thailand sebagai eksportir utama durian dengan menargetkan memasok hingga 22 ribu ton durian ke China pada tahun 2030.

Baca Juga : Malaysia Sambut Kebijakan China yang Ijinkan Impor Durian Beku

Akan tetapi untuk memenuhi target tersebut tidaklah mudah. Kementerian Pertanian mengakui kenaikan biaya operasional menjadi kendala utama yang menyulitkan petani. Beberapa biaya operasional yang meningkat tersebut di antaranya adalah pupuk, bahan-bahan kimia untuk pestisida dan fungisida serta alat-alat mesin pertanian yang kebanyakan masih didatangkan dari luar negeri.

Selain itu, peneliti dari Malaysian Agricultural Research and Development Institute (MARDI), Salehudin Md. Radzuan, mengatakan perubahan iklim juga berpotensi menimbulkan masalah lain.

Menurut Salehudin, para petani di Malaysia selama ini masih mengikuti pola tradisional yang sekedar menanam dan menunggu hasil panenan tanpa pemeliharaan yang optimal. Pola ini akan sulit beradaptasi dengan kian intensifnya El Nino yang membuat musim kemarau berkepanjangan.

“Jika musim terlalu panas, pohon-pohon akan stress. Buahnya kecil dan kualitasnya jelek. Musti ada sistem pemupukan dan irigasi yang lebih baik jika ingin panenan bagus,” ujar Salehudin.

Saat ini MARDI tengah meneliti varietas durian unggul. Namun, lanjut Salehudin, hasilnya tak bisa seketika. Butuh proses panjang.

“Kita masih harus menguji rasanya dan apakah varietas itu bisa tumbuh subur di sentra-sentra produksi. Pohon durian membutuhkan waktu lama untuk tumbuh dan berbuah. Penelitian ini tentunya akan memakan waktu bertahun-tahun pula,” jelasnya.

Permintaan Durian Meningkat Pesat di Malaysia
(Permintaan durian, terutama varietas premium, meningkat pesat di China. Namun memunculkan varietas premium lain yang lebih tahan terhadap perubahan iklim, masih membutuhkan proses panjang dan berliku. Image : Alamy)

Baca Juga : Buah Durian itu Buah Asli Indonesia, Lho…

Ancaman Deforestasi

Dengan masih panjang dan berlikunya jalan untuk mendapatkan varietas unggul yang baru, lonjakan permintaan durian ke China menyebabkan maraknya pembukaan lahan untuk perkebunan durian. Ancaman deforestasi bukan lagi sekedar isu. Tapi sudah di depan mata.

Puan Sri Shariffa Sabrina Syed Akil, Presiden Pertubuhan Pelindung Khazanah Alam Malaysia (PEKA), menggambarkan situasi ini sebagai “sangat serius”.

“China kini ingin lebih banyak durian kami. Orang-orang Malaysia jadi gelap mata karena begitu banyaknya uang yang diiming-imingkan,” ujar Sri Shariffa.

Alih-alih mengubah lahan tak produktif, otoritas yang berwenang lebih memilih menebangi hutan untuk membuka perkebunan durian baru.

Besarnya uang yang berputar membuat pemerintah negara bagian di Semenanjung Malaysia, tempat produksi durian terkonsentrasi, kerap mengabaikan perlindungan terhadap hutan di sekitarnya. Karena pemerintah negara bagian memiliki otonomi mengelola hutan di wilayahnya, tak banyak yang dapat dilakukan pemerintah federal (pusat) untuk mengendalikan hal ini.

Deforestasi untuk Perkebunan Durian
(Foto yang diambil pada 19 Desember 2018 ini menunjukkan pembukaan lahan untuk perkebunan durian di Raub, pinggiran Kuala Lumpur. Lonjakan permintaan durian ke China dituding menyebabkan gelombang deforestasi di Malaysia. Image : AFP)

“Saya melihat dampaknya dengan mata kepala sendiri. Seluruh ekosistem terpengaruh. Sungai-sungai menghilang. Dan masyarakat adat kehilangan tanah leluhur mereka karena ekspansi perkebunan,” tutur Shariffa.

Baca Juga : Demam Durian di China Bikin Negara-negara ASEAN Kewalahan

Hal senada juga disuarakan Mustafa Along, Ketua Jaringan Kelantan untuk Desa Orang Asli pada sebuah forum di Thailand bulan Juni lalu.

Ia mengatakan Kelantan, negara bagian di pesisir timur Semenanjung Malaysia, menghadapi berbagai aktivitas yang meresahkan seperti pembalakan, penambangan serta alih fungsi hutan menjadi perkebunan. Bahkan perluasan perkebunan durian yang didanai perusahaan-perusahaan China kian merambah ke tanah-tanah adat.

Mustafa mencontohkan, Pemerintah Kelantan belum lama ini menyetujui 4.000 hektar lahan hutan di Pos Simpor, Gua Musang, untuk dijadikan perkebunan durian Musang King.

Hal ini memantik resistensi masyarakat adat. Mereka menghadang para pekerja yang direkrut perusahaan memasuki hutan dengan mendirikan blokade di Pos Simpor.

Namun aksi masyarakat adat ini tidak membuat perusahaan mundur. Pihak perusahaan mengambil langkah hukum. Terkadang juga menggunakan intimidasi dan kekerasan untuk memaksa masyarakat sekitar tidak merecoki pekerjaan mereka.

“Mereka menuntut awak jutaan ringgit karena mengklaim telah kehilangan banyak uang selama masa blokade. Awak ini hanyalah orang asli yang berpenghasilan tak lebih dari USD 50 (Rp 722 ribu) sebulan,” tutur Mustafa.

Perseteruan antara masyarakat adat dan perusahaan kemudian menjadi headlines di media nasional. Pemerintah federal Malaysia akhirnya terpaksa membawa Pemerintah Negara Bagian Kelantan ke meja hijau awal tahun ini demi melindungi hak ulayat masyarakat setempat.

Blokade Warga Kelantan
(Blokade penduduk asli di Kelantan terhadap ekploitasi tanah adat mereka untuk tujuan komersial. Meski hanya dipalang bambu, blokade ini sukses memancing perhatian Pemerintah Federal Malaysia untuk menghentikan perluasan perkebunan durian di wilayah tersebut. Image : Malay Mail)

Baca Juga : Petani Buah Thailand Pasang Chip Anti Maling

Ancaman Keragaman Genetik Durian Lokal

Dengan makin banyaknya petani yang tergiur melayani pasar China, ancaman lain diam-diam mengintip, yakni hilangnya keragaman genetik durian lokal. Ini sudah terjadi di Thailand, yang mengekspor sebagian besar duriannya ke raksasa ekonomi itu.

Meski demikian, kekhawatiran tersebut dianggap berlebihan. Berbeda dengan warga Thailand, Para Pak Cik dan Mak Cik amat tergila-gila dengan durian sehingga produksinya lebih banyak untuk konsumsi dalam negeri ketimbang diekspor. Warga Malaysia tercatat sebagai konsumen durian terbesar di dunia dengan konsumsi per kapita 11 kilogram per tahun. Sehingga walau pun permintaan internasional untuk Musang King dan Sultan meningkat pesat, konsumsi varietas durian lainnya di pasar domestik tetap tinggi.

“Ada 204 varietas durian yang terdaftar dan ditanam di sini. Masing-masing memiliki pangsa pasar sendiri,” ujar Mustafa.

Terlepas dari segala tantangan yang harus dihadapi, Eric Chan dari Dulai Fruits optimis akan masa depan industri durian di Malaysia. Ia berharap melonjaknya permintaan durian ke China akan mendorong minat kaum muda untuk terjun di industri ini. Ia juga melihat potensi pengembangan, terutama di sektor inovatif seperti olahan makanan berbahan baku durian.

Pengolahan Makanan Berbahan Baku Durian
(Durian dianggap dapat mendorong tumbuhnya industri olahan makanan berbahan baku buah yang aromanya sangat menyengat ini. Image : Asia Watch)

“Ini juga akan membantu pengembangan industri pengolahan makanan dengan melibatkan banyak insinyur karena kami membutuhkan mesin untuk menghasilkan aneka produk jadi. Industri durian tidak hanya soal menanam pohon dan mengirimkannya ke luar. Ada ekosistem keseluruhan untuk itu. Itulah mengapa saya lebih suka berpikir positif tentang (industri) ini,” ujar Chan.

Baca Juga : Wine Durian, Tak Semematikan Kombinasi Durian dan Alkohol

Hanya saja Shariffa dari PEKA lebih menyoroti dampak buruknya dalam jangka panjang ketimbang tergiur keuntungan jangka pendek.

“Pemerintah negara bagian terlalu powerful menguasai hutan kita. Mereka tak mempunyai pemahaman mengenai pentingnya aspek keberlanjutan. Mereka pikir menebangi hutan akan menghasilkan banyak uang. Mereka hanya berpikir jangka pendek,” keluhnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan