Pemanasan Global Pengaruhi Ketersediaan Omega-3 di Bumi

Pemanasan Global Pengaruhi Ketersediaan Omega-3 di Bumi
(Memanasnya suhu bumi diperkirakan akan berpengaruh terhadap ketersediaan Omega-3 yang banyak terdapat pada ikan. Image : Inverse)

Pomidor.id – Sebuah penelitian terbaru menunjukkan ketersediaan Omega-3, asam lemak tak jenuh yang penting untuk pembentukan otak, dapat berkurang secara signifikan akibat pemanasan global.

Omega-3, atau yang disebut sebagai asam dokosaheksaenoat (DHA) adalah asam lemak yang paling banyak di otak mamalia. Asam lemak ini penting dalam perkembangan saraf dan kesehatan, melindungi sel serta mengurangi peradangan.

Sayangnya, meski tergolong mamalia, manusia tidak cukup menghasilkan DHA sendiri. Manusia amat bergantung pada ikan dan makanan laut untuk meningkatkan kadar DHA dalam dirinya. Dari sejumlah penelitian sebelumnya, para ilmuwan menyimpulkan bahwa nenek moyang manusia di masa prasejarah berhasil mengembangkan kemampuan kinerja otaknya dengan banyak mengambil sumber makanan dari laut.

Laut menopang ketersediaan Omega-3 sangat besar. Sebagian besar DHA diproduksi ganggang/rumput laut yang perannya sangat vital dalam rantai makanan di lautan.

Namun reaksi biokimiawi yang terlibat dalam produksi asam lemak ini peka terhadap perubahan suhu. Untuk mengetahui bagaimana pemanasan global mempengaruhi ketersediaan DHA, para ilmuwan melakukan berbagai simulasi.

Sebagaimana dipublikasikan di jurnal Ambio pekan ini, peningkatan suhu global dan pertambahan populasi manusia akan berimplikasi pada berkurangnya akses ke jumlah DHA yang dibutuhkan hingga 96% di tahun 2100.

Baca Juga : Sepertiga Hasil Tangkapan Ikan Tak Pernah Sampai ke Meja Makan Kita

Di wilayah Skandinavia yang penduduknya relatif sedikit dan akses melimpah ke ikan yang kaya DHA, ketersediaan Omega-3 memang tidak masalah. Akan tetapi berbeda dengan di Asia dan Afrika. Di kedua benua itu populasi manusia sangat padat dan sumber DHA sedikit. Sebagian besar penduduk akan berjuang untuk mendapatkan asupan asam lemak essensial ini sesuai dosis yang direkomendasikan, 100 miligram/hari.

“Menurut simulasi kami, pemanasan global dapat mengakibatkan lenyapnya DHA yang tersedia di alam 10 hingga 58 persen dalam 80 tahun ke depan,” kata Stefanie Colombo, peneliti di Universitas Dalhousie, Kanada.

“Penurunan level akan memiliki efek terbesar pada populasi yang rentan dan periode awal perkembangan manusia seperti janin dan bayi. Juga ada kemungkinan mempengaruhi mamalia predator, terutama di daerah kutub,” lanjutnya.

Para peneliti memperkaya simulasi mereka dengan data dari Sea Around Us, yang mengumpulkan data terkait efek penangkapan ikan terhadap kesehatan ekosistem laut. Mereka juga mendapatkan tambahan informasi dari para ilmuwan di PBB mengenai data tangkapan perikanan darat serta produksi perikanan budidaya.

Suplemen Minyak Ikan
(Konsumsi minyak ikan yang kaya akan Omega-3 juga bisa diperoleh dalam bentuk suplemen. Image : Flickr)

Baca Juga : Penangkaran Gurita untuk Konsumsi Tak Etis dan Bahayakan Ekologi

Para peneliti menggunakan data-data tersebut untuk membangun model simulasi secara matematis yang memprediksi bagaimana kenaikan suhu akan mempengaruhi ketersediaan DHA dalam rantai makanan di laut dan air tawar.

“Ikan air tawar menunjukkan penurunan DHA yang lebih besar daripada di laut. Ini karena kenaikan suhu di air tawar diproyeksikan lebih besar dibanding lautan,” jelas Colombo.

Ia menambahkan, perubahan dalam ketersediaan Omega-3 bisa jadi akan memiliki dampak yang lebih besar pada populasi di wilayah-wilayah tertentu di dunia. Lebih-lebih di pedalaman Afrika.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan