Penyuluh Pertanian ASEAN Berkumpul di Yogyakarta

Penyuluh Pertanian ASEAN Berkumpul di Jogja
(Para penyuluh pertanian ASEAN bertemu dalam lokakarya “Workshop on the Role of Agricultural Extension in Strengthening Agricultural Innovation System” yang berlangsung 24-27 September 2019 di Jogja. Image : ANTARA)
Pomidor.id – Sebanyak 47 perwakilan penyuluh pertanian dari sembilan negara ASEAN berkumpul di Yogyakarta, Selasa (24/9). Mereka berkumpul untuk membahas dan bertukar pengalaman mengenai perkembangan sistem penyuluhan dan sistem inovasi pertanian memasuki revolusi industri 4.0.

Para penyuluh pertanian ASEAN itu bertemu  dalam “Workshop on the Role of Agricultural Extension in Strengthening Agricultural Innovation System” yang digelar oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian.

“Kami berharap ada pertukaran informasi antara penyuluh dari negara-negara ASEAN. Mereka sudah memahami bahwa dunia kita sudah memasuki revolusi industri 4.0,” kata Sekretaris BPPSDMP Kementan Siti Munifah dalam rilisnya..

Menurut Munifah, memasuki revolusi industri 4.0 peran penyuluh tidak hanya sebatas mentransfer teknologi dan inovasi baru kepada para petani.

Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT), para penyuluh juga dituntut mampu menghubungkan petani dengan pasar, para pemodal, hingga asuransi dengan memetakan lokasi kegagalan panen.

Lokakarya itu, lanjutnya, juga dapat digunakan untuk menyusun program dan rencana membangun kerja sama. Khususnya terkait pendekatan dan strategi pada isu-isu transformasi penyuluhan di negara-negara ASEAN.

“Kami berharap dapat menghasilkan model pengembangan regenerasi petani sebagai agrientrepreneurs,” jelasnya.

Kegiatan itu menghadirkan nara sumber yang berasal dari para praktisi dan Duta ASIA Youth Entrepreneurship, akademisi, lesson learn dari Better Rice Initiative Asia (BRIA) dan korporasi Jejamuran.

Baca Juga : 12 Negara Afrika Belajar Pertanian dan Peternakan di Malang

Hal senada diutarakan Kepala Biro Kerjasama luar negeri Kementerian Pertanian Ade Candradijaya. Ia mengatakan di sektor pertanian, negara-negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia memang memosisikan penyuluh sebagai agen yang penting dan strategis.

Para penyuluh pertanian, menurut Ade, merupakan ujung tombak pengembangan pertanian. Ini karena mereka yang menyebarkan dan menerjemahkan hasil inovasi dan teknologi yang dikembangkan riset center kepada para petani dengan bahasa petani.

Lokakarya para penyuluh pertanian ASEAN akan berlangsung sampai 27 September 2019. Lokakarya tersebut merupakan tindak lanjut komitmen dalam sidang ASEAN Working Group Agriculture Training and Extension (AWGATE) yang dirancang untuk mewadahi para penyuluh pertanian.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan