Perkebunan Kopi Hijaukan Kembali Gunung Gorongosa di Mozambik

Perkebunan Kopi Hijaukan Kembali Hutan Mt. Gorongosa di Mozambik
(Bagi warga di sekitar lereng Gunung Gorongosa, Mozambik, kopi memberi secercah harapan akan kehidupan yang lebih baik. Image : Jen Guyton/Medium)
Pomidor.id – Paska perang saudara yang meluluhlantakkan negaranya bertahun-tahun, sebagian warga Mozambik menata kembali hidupnya dengan bertanam kopi. Tak hanya menjadi sumber penghasilan, perkebunan kopi juga membantu menghijaukan kembali hutan Mt. Gorongosa. Berikut cuplikan kisahnya.

Seorang perempuan bertubuh ceking, Querida Barequinha, dengan penuh konsentrasi memilah-milah biji kopi yang diletakkan di rak untuk dijemur. Perlahan ia menyisihkan biji-biji kopi yang retak atau cacat.

“Saya senang bertanam kopi karena langsung menghasilkan uang,” ujarnya tersenyum.

“Dengan uang ini saya bisa membeli sabun, minyak goreng, buku sekolah dan barang-barang rumah tangga lainnya,” tambahnya.

Barequinha mengaku bertanam kopi sejak empat tahun lalu di lereng Gunung Gorongosa. Di ketinggian tersebut, arak-arakan awan kerap menutupi hutan hujan tropis di atasnya.

Paska perjanjian damai antara Pemerintah Mozambik dengan pemberontak Renamo yang markas gerilyanya ada di kawasan itu, ia berencana untuk menanam lebih banyak lagi pohon kopi. Ia juga mengajak ketujuh anaknya untuk membantunya mengurusi tanaman kopi di kebun milik keluarga.

“Saya ajak seluruh keluarga untuk bertanam kopi. Kopi memberi kami harapan akan masa depan yang lebih baik,” ujarnya kepada Associated Press.

Perkebunan Kopi di Gunung Gorongosa, Mozambik
(Selain menjadi sumber penghasilan menjanjikan bagi para petani lokal, pohon-pohon kopi juga berfungsi menghijaukan kembali hutan sekitar. Image : Mozambique National Park)

Barequinha adalah satu dari 400 petani kopi yang berhasil di Mozambik. Selain menjadi sumber penghasilan yang lumayan besar, di saat yang sama perkebunan kopi juga membantu menghijaukan kembali hutan di sekitar lereng Gunung Gorongosa.

Pemerintah Mozambik sendiri berupaya memacu produksi kopi sebagai bagian dari rencana merevitalisasi lingkungan taman nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Baca Juga : Perubahan Iklim Pengaruhi Produktivitas Tanaman Kopi

Ketinggian Gunung Gorongosa adalah 1.863 meter dpl. Gunung ini merupakan gunung tertinggi yang terletak di wilayah tengah Mozambik. Banyak petani lokal yang membuka lahan untuk menanam jagung dengan membabati tanaman keras yang tumbuh di sekitarnya.

Menurut para pemerhati lingkungan, budidaya tanaman kopi akan membantu menghentikan laju deforestasi di lereng Gunung Gorongosa. Apalagi kopi yang ditanam di sela-sela pepohonan tinggi seperti albasia di kawasan tersebut, ternyata menghasilkan biji kopi yang aroma dan rasanya lebih enak.

“Kopi tumbuh subur di sini. Juga menghasilkan income yang lebih baik ketimbang jagung sehingga mendorong petani untuk menanamnya dan menghijaukan kembali Gunung Gorongosa karena kopi termasuk tanaman keras. Jadi baik petani maupun Taman Nasional sama-sama diuntungkan,” kata Matthew Jordan, Direktur Muda Program Penghidupan Pertanian Taman Nasional Gunung Gorongosa.

Kopi dapat menghasilkan pendapatan 10 kali lebih banyak dibanding jagung atau tanaman musiman lainnya yang ditanam petani setempat, jelas Jordan.

Mengangkut Hasil Panenan
(Seorang wanita membawa biji kopi yang baru dipanen di perkebunan kopi di Gunung Gorongosa. Image : Tsvangirayi Mukwazhi/AP)

Baca Juga : Terungkap, Perbudakan di Perkebunan Kopi Bersertifikasi Starbucks

Dua dekade lalu, Taman Nasional Gunung Gorongosa kondisinya amat memperihatinkan akibat perang saudara dan perburuan satwa liar di negara yang terletak di pesisir tenggara Afrika itu. Kini pembenahan taman dilakukan dengan kemitraan antara Pemerintah Mozambik dan Proyek Restorasi Gorongosa yang didukung oleh donatur Amerika, Greg Carr. Organisasi ini mengalokasikan lebih dari setengah anggaran tahunannya untuk membantu masyarakat yang tinggal di sekitar Taman Nasional.

Proyek Kopi Gorongosa saat ini tengah menggenjot produksinya. Perjanjian damai antara pemerintah dan pemberontak yang ditandatangani awal Agustus lalu, menambah kondusif upaya peningkatan produksi.

Selama empat tahun terakhir, telah ditanam 40 ribu pohon kopi yang tahun ini sudah menghasilkan 8 ton biji kopi. Sekitar 300 ribu pohon kopi baru akan ditanam tahun ini. Jumlah yang kurang lebih sama akan ditanam setiap tahun selama 10 tahun ke depan, terang Jordan.

“Situasi damai akan mendukung lompatan produksi,” ujarnya sembari menunjuk ke karung-karung berisi benih tanaman kopi yang akan ditanam.

“Hal ini bakal membuat Kopi Gorongosa masuk ke dalam peta (wilayah penghasil kopi). Petani lokal akan dibayar dengan harga yang wajar. Bahkan harga premium untuk kualitas terbaik,” lanjutnya.

Menyortir Biji Kopi
(Emak-emak tengah menyortir biji kopi. Image : Tsvangirayi Mukwazhi/AP)

Baca Juga : Banyak Jenis Kopi Liar Terancam Punah

Sebenarnya masih ada lebih dari 800 pemberontak Renamo yang masih bercokol di puncak Gunung Gorongosa. Keberadaan mereka tentu membatasi ekspansi perkebunan kopi dan komoditas pertanian lainnya di sana. Namun iming-iming uang dari hasil kopi yang cukup besar, cepat atau lambat akan membuat mereka meletakkan senjata dan kembali ke profesi lama mereka, bertani. Demikian keyakinan otoritas pengelola Taman Nasional.

“Pemrosesan biji kopi juga dapat menciptakan lapangan kerja musiman bagi ribuan penduduk lokal,” tambah Jordan.

Mozambik bukanlah produsen kopi utama di Afrika seperti Ethiopia dan Kenya. Namun iklim unik Gunung Gorongosa sangat mendukung untuk produksi kopi secara besar-besaran di negara bekas jajahan Portugis itu. Nespresso, perusahaan kopi kelas dunia, telah menunjukkan minat untuk mempromosikan kopi yang dihasilkan dari Taman Nasional Gorongosa.

Memproses Biji Kopi
(Menunggui pemrosesan biji kopi dengan alat sederhana menjadi bubuk. Image : Tsvangirayi Mukwazhi/AP)

Selain kopi, jambu monyet, nanas, alpukat, jeruk dan kelengkeng adalah tanaman-tanaman yang didorong untuk dibudidayakan karena dapat meningkatkan penghasilan petani lokal sekaligus merevitalisasi lingkungan di Gorongosa.

“Kami ingin menggalakkan agroforestry dengan tanaman bernilai tinggi,” kata Jordan.

Baca Juga : Sister City di Sektor Pertanian dengan Negara Lain, Kenapa Tidak?

Vaida Frangene, warga lokal lainnya, mengaku sangat mendukung keberadaan perusahaan yang terlibat dalam pengembangan produksi kopi di Taman Nasional.

“Awalnya saya jadi sukarelawan dalam program penghijauan dan ikut menanam kopi. Tahun lalu saya mulai mendapatkan uang dari hasil bertanam kopi. Begitu pula dengan tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Saya suka kopi karena dapat langsung duit dari situ” ujar Frangene.

Dengan bersemangat Frangene mengatakan tahun lalu ia mampu membeli Capulanas baru. Capulanas adalah sejenis kain berwarna cerah yang digunakan warga setempat sebagai rok dan syal. Uang hasil bertanam kopi juga dibelanjakannya untuk barang-barang keperluan rumah tangga. Sesuatu yang dulu sulit dilakukannya.

Anak-anak Leluasa Bermain
(Dalam suasana yang relatif lebih tenang paska perjanjian damai antara Pemerintah Mozambik dengan kubu pemberontak, anak-anak pun jadi leluasa bermain di perkebunan kopi di Gunung Gorongosa. Image : Tsvangirayi Mukwazhi/AP)

“Banyak hal menyenangkan lainnya. Saya jadi suka mencicipi aneka kopi. Saya belajar keterampilan baru dalam menanam kopi, memetik dan cara mengeringkan bijinya. Saya banyak belajar tentang bercocok tanam,” pungkasnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan