Kelalaian Sebabkan Terblokirnya Ekspor Apel Ukraina ke Indonesia

Kelalaian Sebabkan Terblokirnya Ekspor Apel Ukraina ke Indonesia
(Karena tak tercantum dalam protokol karantina Indonesia-Ukraina yang baru, apel Ukraina tak akan beredar di pasar Indonesia dalam waktu dekat. Image : UPOA)
Pomidor.id – Indonesia memutuskan untuk menghentikan aplikasi impor apel dari Ukraina. Hal ini gara-gara pejabat di Kementerian Pertanian Ukraina, entah sengaja atau tidak, lalai memasukkan apel ke dalam daftar produk yang telah diperbaharui protokol residu pestisidanya.

Rilis dari Ukrainian Fruit and Vegetable Association (UPOA), apel sebelumnya termasuk dalam produk pertanian yang tercantum dalam protokol karantina Indonesia-Ukraina. Namun karena protokol tersebut sudah tak berlaku lagi, maka harus ada permintaan pembaruan protokol dari negara eksportir.

Meski ada banyak hambatan nontarif, produsen apel di Ukraina menganggap Indonesia sebagai salah satu negara dengan pasar paling menjanjikan. Menurut Kepala UPOA, Fyodor Rybalko, jika diberlakukan liberalisasi perdagangan, Indonesia dapat menjadi salah satu pasar utama untuk apel berkualitas premium.

“Indonesia sudah menjadi importir apel terbesar keempat di dunia, hanya sedikit di bawah Rusia. Di sisi lain, harga apel di negara itu sangat tinggi. Konsumen juga menyukai apel berwarna cerah dan berkualitas tinggi yang diproduksi Ukraina,” ujar Rybalko.

Rybalko menambahkan, dengan dukungan FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian PBB) dan EBRD (Bank Rekonstruksi dan Pembangunan Eropa), UPOA sempat menggelar misi dagang yang cukup sukses dan berhasil pula dalam pengiriman pertama apel ke Indonesia.

Hanya saja untuk musim ini permintaan kuota ekspor apel Ukraina ke Indonesia tidak dapat dipenuhi. Pasalnya, apel tidak termasuk produk barang yang disetujui untuk diimpor dari Ukraina. Protokol karantina untuk apel telah berakhir beberapa waktu lalu.

Hal yang sama juga pernah terjadi sebelumnya. Dilaporkan kecerobohan pejabat pertanian menyebabkan pemblokiran apel dan tomat asal Ukraina ke Uni Eropa. Namun berkat tekanan dari asosiasi dan media, hilangnya kedua produk pertanian di Uni Eropa itu hanya berlangsung selama lima hari. Kasus yang berulang untuk ekspor apel Ukraina ke Indonesia menunjukkan adanya masalah sistemik di Kementerian Pertanian negara tersebut.

Rybalko mengingatkan, jika masalah kelalaian ini terus terjadi, bukan tidak mungkin Ukraina akan kehilangan pasar potensial.

“Pesaing terdekat kami, Moldova dan Serbia, meski sudah memiliki pasar tetap di Rusia, tetap aktif mencari pasar alternatif baru,” tegasnya.

Baca Juga : Ukraina Perketat Sistem Kontrol untuk Produk Organik

Sementara itu, Andrei Yarmak, ekonom di Departemen Investasi FAO, mengatakan bahwa Indonesia merupakan pasar yang menggiurkan tak hanya untuk apel bagi Ukraina. Tapi juga blueberry dan buah ceri.

Ada lebih dari 40 juta penduduk Indonesia berpenghasilan di atas USD 1.500 (lebih dari Rp 20 juta)/bulan. Mereka inilah yang dinilai akan lebih mudah membelanjakan uangnya untuk membeli buah-buahan eksotis seperti blueberry, apel dan ceri.

Kebun Apel Premium di Ukraina
(Kebun apel kualitas premium di Ukraina. Image : Agronews Ukraine)

“Membeli apel (premium) atau berry di Indonesia sama dengan menegaskan status sosial Anda. Harga rata-rata buah eksotis seperti apel di Indonesia bisa mencapai USD 10 (Rp 145 ribu)/kg. China, Amerika Serikat, Afrika Selatan, Selandia Baru dan Australia adalah eksportir utama apel kualitas A ke negara ini. Untuk Eropa, hanya Perancis yang mengekspor dengan volume besar ke Indonesia,” jelas Yarmak.

Baca Juga : Terbuka Lebar Peluang Ekspor Manggis ke Ukraina

Saat ini UPOA bekerja sama dengan Asosiasi Importir Buah Indonesia tengah mencari solusi terbaik. Belum diketahui apakah mungkin menambahkan apel secara terpisah ke dalam daftar produk yang telah disepakati atau memulai seluruh prosedur dari awal. Yang jelas, untuk tahun ini tidak akan ada apel Ukraina di supermarket atau jaringan swalayan raksasa di Indonesia.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan