Tokoh Agama dan Budayawan Didorong Berperan dalam Panel Etis Melawan Perubahan Iklim

Tokoh Agama dan Budayawan Diharapkan Berperan dalam Panel Etis Melawan Perubahan Iklim
(Kebakaran hutan sebagian besar akibat ulah manusia. Tokoh agama dan budayawan diharapkan berperan lebih banyak dari sisi etis dalam mencegah upaya perusakan lingkungan yang dapat mempercepat perubahan iklim. Image : Abdul Qodir/AFP)
Pomidor.id – Pengendalian perubahan iklim tidak hanya bisa dilakukan dengan pendekatan keilmuan saja. Peran tokoh agama dan budayawan sama pentingnya karena mereka dapat mengubah perilaku manusia sebagai subyek utama dalam pengendalian perubahan iklim. 

Dalam Konferensi Perubahan Iklim Dunia (UNFCCC) mendatang, Indonesia berinisiatif mendorong peran para tokoh agama dan tokoh budaya sebagai Panel Etis dunia yang diharapkan dapat berdiri sejajar dengan para ilmuwan Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC. Para tokoh agama dan budaya tersebut dapat memberikan panduan moral etis. Sehingga upaya masyarakat dunia untuk menanggulangi perubahan iklim dapat semakin baik dalam implementasinya.

“Kalau kita bisa galang semua tokoh agama di Indonesia yang diawali dengan MUI, serta tokoh-tokoh budaya yang memiliki pengetahuan terkait kearifan lokal, kita harapkan bisa memberikan masukan kepada dunia dengan lebih baik,” ujar Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Rhuanda Agung Sugardiman dalam acara Focus Group Discussion (FGD) tentang “Panel Etis dan Fatwa untuk Ketahanan Iklim di Indonesia” yang diselenggarakan di Jakarta, (1/9).

Melalui Pidato Presiden Jokowi dalam Conference of the Parties (COP) 21 di Paris, Indonesia telah berkomitmen menjadi bagian dari solusi atas permasalahan global akibat dampak perubahan iklim. Dengan komitmen tersebut, Indonesia diharapkan membuat terobosan-terobosan yang dapat menjadi solusi masyarakat dunia dalam menanggulangi perubahan iklim.

Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar-Agama dan Peradaban, sangat mendukung dibentuknya panel etis ini. Din Syamsudin, salah satu perwakilan Majelis Ulama Indonesia dalam FGD ini mengatakan keberadaan panel etis dapat menyeimbangkan pendekatan ilmiah dengan pendekatan agama dan budaya dalam mengendalikan perubahan iklim.

“Perlukah panel etis perubahan iklim? Jawabannya perlu dan sangat mendesak. Perubahan iklim itu yang utama diakibatkan krisis moral, penyelesaiannya adalah dengan pendekatan etis. Dalam Islam apa yang kita hadapi seperti dampak perubahan iklim adalah kerusakan “Alhasad” agama sudah menyatakannya,” ujar Din Syamsuddin.

Baca Juga : Cendekiawan Muslim Agar Bantu Penyelamatan Lingkungan

Din Syamsuddin menambahkan kesalahan fatal umat manusia itu karena melihat alam ini sebagai obyek, bukan sebagai subyek. Alam dan manusia sama-sama ciptaan Allah/Tuhan Semesta Alam, maka ia harus diperlakukan sebagai subyek.

Pada COP 25 di Chile tahun 2019 ia berharap panel etis dapat terbentuk untuk mendampingi Panel Keilmuwan (IPCC). KLHK melalui Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) akan terus menyelenggarakan FGD lanjutan terkait inisiatif pembentukan panel etis ini.

Tindak lanjut dari FGD ini akan dijaring masukan untuk bekal pembuatan roadmap pembentukan Panel Etis Dunia. Inisiatif Indonesia ini diharapkan memperoleh dukungan dari negara sahabat dan regional.

Inisiatif pembentukan Panel Etis Dunia perlu dilakukan karena Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia serta negara multiagama dan multietnis. Dengan kondisi tersebut, inisiatif Indonesia untuk pembentukan Panel Etis Dunia di UNFCCC sangat ditunggu negara-negara di dunia. Khususnya negara-negara berkembang yang masih kuat dalam tataran agama dan budayanya.

Hadir dalam FGD ini Prof. Rizaldi Noer Direktur Eksekutif CCROM IPB, Hanafi S. Guciano (Civil Society), Yusra Khan Ditjen Multilateral Kemenlu, Hayu Susilo Parabowo Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam MUI dan para undangan.

1 Komentar

Tinggalkan Balasan