Turunnya Harga Sejumlah Bahan Pokok Sebabkan Deflasi di Kota Malang

Turunnya Harga Sejumlah Bahan Pokok Sebabkan Deflasi di Kota Malang
(Harga daging ayam ras yang turun menjadi pendorong deflasi di Kota Malang selama September 2019. Image : Pomidor)
Pomidor.id – Pada bulan September 2019, deflasi di Kota Malang terjadi untuk yang kedua kalinya di tahun 2019, yakni sebesar – 0,03 persen. Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga sejumlah bahan pokok yang ditunjukkan oleh penurunan indeks kelompok pengeluaran.

Dari tujuh kelompok pengeluaran di Kota Malang, dua kelompok mengalami deflasi. Kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi tertinggi adalah kelompok bahan makanan sebesar – 0,75 persen. Kemudian diikuti kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar – 0,38 persen.

“Sebagai pembanding, deflasi kita adalah deflasi yang terendah kedua setelah Surabaya. Dimana pada tahun lalu di bulan yang sama juga kota Malang mengalami deflasi,” sebut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, Sunaryo, saat jumpa pers di kantor BPS, Selasa (1/10/2019).

Ia menambahkan, di sepanjang tahun 2019, ini adalah deflasi yang kedua. Sebelumnya kota Malang juga sempat mengalami deflasi di bulan Juni yang disebabkan turunnya harga sejumlah bahan pokok.

Baca Juga : Tiket Pesawat dan Bahan Makanan Penyebab Deflasi di Kota Malang

Disampaikan Sunaryo, sepuluh komoditas teratas yang memberikan andil terbesar deflasi pada bulan September 2019 diantaranya adalah daging ayam ras dengan andil – 0,0788 persen, cabai rawit dengan andil sebesar – 0,053 persen, bawang merah dengan andil – 0,0365 persen, telur ayam ras dengan andil -0,0236 persen, bawang putih – 0,0205 persen, cabai merah – 0,0136 persen, mentimun – 0,0097 persen, udang basah – 0,0069 persen.

Kepalal BPS Kota Malang
(Kepala BPS Kota Malang, Sunaryo. Image : Pomidor)

“Kemudian disusul penurunan harga tiket pesawat angkutan udara 2,80 persen dengan andil -0,0709 persen,” ucapnya.

Lebih lanjut dikatakan Sunaryo, setelah mengalami deflasi di bulan September, kecenderungan bulan depan biasanya akan mengalami inflasi seiring dengan datangnya musim penghujan dan berakhirnya musim kemarau.

“Pada bulan-bulan tersebut biasanya stok bahan makanan akan menipis. Kemungkinan komoditi-komoditi juga baru ditanam. Sehingga hal-hal yang perlu diwaspadai tentu harga pangan,” pungkasnya. (ANC)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan