Angon Bebek Petelur Harus Rela Jadi “Bang Toyib”

Pomidor – Bagi konsumen, telur ayam broiler tidaklah terlalu sulit dicari. Di toko kelontong sebelah rumah, di pasar, di supermarket, banyak dijual dengan kemasan aneka rupa. Mau beli ngecer bisa, mau beli dus-dusan pun tak masalah karena memang barangnya melimpah. Tinggal menyesuaikan kebutuhan dan isi kantong saja.

Namun tidak demikian dengan telur bebek. Telur yang biasanya dijadikan telur asin ini, pasokan barangnya tak semelimpah telur ayam. Apalagi bebek petelur sebagian besar dipelihara dengan cara-cara tradisional. Salah satunya dengan angon atau menggembala bebek berpindah-pindah tempat, tergantung di mana ada makanan untuk bebek-bebek tersebut.

Menggembala bebek petelur jarang yang dilakukan sendirian. Melainkan bersama kelompok peternak bebek lainnya. Pindahnya peternak bebek juga bukan ke sembarang tempat tapi ke area-area persawahan bekas padi yang baru saja di panen. Lahan bekas padi terdapat sisa-sisa bulir padi atau sering disebut gabah. Gabah tersebut yang akan jadi makanan bebek. Selain gabah, bebek juga mendapat makanan tambahan berupa hewan-hewan kecil, seperti cacing atau serangga yang hidup di tanah.

Selain itu, menggembala bebek di area persawahan boleh dikatakan memanjakan bebek karena tanahnya yang becek sesuai dengan habitat asli unggas ini. Tak jarang juga terdapat parit atau sungai irigasi, sehingga bebek semakin betah untuk berlama-lama.

Jarak jauh bukan halangan bagi peternak bebek untuk melakoni kehidupan nomaden. Seperti halnya yang dilakukan oleh Ponidi di area persawahan Cemoro Kandang. Saat ditemui beberapa hari lalu, pria asal Tumpang, Kabupaten Malang tersebut mengungkapkan, “Saya sudah biasa keliling menggembala bebek mas, kadang sampai di daerah Buring, bahkan sampai Pakisaji”.

Tumpang merupakan wilayah Kabupaten Malang bagian Timur. Cemoro Kandang dan Buring merupakan wilayah Kota Malang, sedangkan Pakisaji termasuk Kabupaten Malang yang wilayahnya condong ke arah selatan. Jarak yang ditempuh untuk berpindah cukup jauh. Lintas desa, kecamatan, bahkan kabupaten akan ditempuh. Seperti pepatah ada gula ada semut. Di situ ada bekas tanaman padi, di situ akan dihampiri oleh peternak bebek.

Baca juga :

Eri Tri Wardana, Sukses dengan Andalkan Pakan Alami Lele

Pengolahan Limbah Ternak Sapi, Bisnis Berwawasan Lingkungan

Kegiatan migrasi peternak bebek tidak dilakukan berangkat pagi pulang sore, melainkan menginap beberapa hari bahkan mingguan. Setiap peternak membawa peralatan tenda untuk bebek dan penjaga, alat masak, dan pakan bebek.

“Sekarang saya yang jaga mas, teman saya barusan pulang”, ujar Ponidi. Kelompok ternak bebek tersebut mengadakan piket jaga bebek. Satu anggota datang, satunya pulang. Mereka jarang pulang, mirip dengan kisah Bang Toyyib yang tak pulang-pulang. Namun “Bang Toyib” yang ini tak pulang-pulang karena sibuk angon bebek, bukan karena yang lain-lain. (ito)

Leave a Reply

%d bloggers like this: