Bawang Putih yang Ijin Impornya Diselewengkan Juga Bawa Penyakit

impor bawang putih berpenyakit
(Tak hanya menyalahgunakan ijin, bawang impor asal China ternyata juga mengandung penyakit yang dapat membahayakan pertanaman bawang secara nasional. Foto : karantina.pertanian.go.id)

Pomidor.id – Masalah impor bawang putih dari RRC ternyata tidak hanya berhenti pada penyalahgunaan perijinannya saja (harusnya untuk benih tapi malah dijual ke pasar), namun juga ditemukan adanya  hama penyakit tanaman. Karena itu Badan Karantina Pertanian terus melakukan penyidikan agar hama penyakit tersebut tidak sampai menyebar dan membahayakan sistem pertanaman bawang secara nasional.

Link Banner

Sebagaimana diketahui, Senin lalu (12/3), telah diamankan 5 ton bawang putih impor asal China yang ijinnya disalahgunakan. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang geram dengan hal itu kemudian meminta agar importir nakal tersebut di-blacklist dari pengadaan barang di kementriannya. Selain itu, Mentan juga menginstruksikan agar Badan Karantina Pertanian (Barantan) mengusut tuntas kasus bawang putih impor ini.

Kepala Barantan, Banun Harpini, menyatakan pihaknya langsung bergerak setelah menerima instruksi Mentan.

“Kami telah lakukan penyidikan terhadap kasus ini, dan masih terus berjalan. Sesuai instruksi Pak Menteri agar importir tersebut di blacklist,” kata Banun.

Baca Juga : Mentan Blacklist Perusahaan yang Selewengkan Ijin Impor Bawang Putih

Berdasarkan temuan dilapangan, komoditas ini masuk pada tanggal 17 Februari 2018 melalui pelabuhan Tanjung Priok dan proses bongkar muatnya dilakukan tanggal 25 Februari 2018. Bawang putih ini masuk ke wilayah NKRI menggunakan phytosanitary certificate atau sertifikat kesehatan tumbuhan dari negara asalnya Cina. Sertifikat secara detil mencantumkan benih beserta dengan jumlahnya. Kuasa pemilik melaporkan impor Bibit Bawang Putih sejumlah 232.000 kg atau sebanyak 13.050 bags.

Pada sertifikat pemasukan tertulis jenis bibit bawang putih dan sesuai hingga diterbitkan sertifikat KT-2 oleh Balai Besar Karantina Tanjung Priok untuk dibawa ke gudang pemilik selama masa Karantina. Sesuai dengan prosedur tindakan Karantina dilakukan pengujian untuk memastikan bebas hama penyakit tumbuhan di laboratorium karantina.

Pada tanggal 27 Februari 2018 dilakukan pengiriman contoh benih untuk diuji dan dilakukan diagnosis dengan sejumlah target organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK). Dari hasil pengujian, diketahui bahwa  benih bawang putih tersebut terinfestasi Nematoda Ditylenchus dipsaci, yakni hama penyakit yang termasuk golongan berpotensi membahayakan pertanaman bawang dan tanaman hias lainnya di Indonesia.

Kemudian pada tanggal 7 Maret 2018 petugas Karantina Pertanian melakukan kunjungan verifikasi sebagai lanjutan pengawasan karantina. Namun, pihak pemilik yakni PT.TSR menyatakan bahwa benih-benih tersebut secara keseluruhan sudah tidak ada dan telah dikirim ke Sumatera Utara untuk digudangkan karena diperuntukan untuk ditanam di daerah Karo.

Banun Harpini
(Kepala Barantan, Banun Harpini, menjelaskan pihak importir juga telah menyalahi aturan karantina karena memindahtempatkan barang sebelum mendapat sertifikat pelepasan. Foto : karantina.pertanian.go.id)

Baca Juga : Barantan Gerak Cepat Antisipasi Melon Berbakteri Asal Australia

“Pihak pemilik, telah menyalahi aturan Karantina, dimana selama masa karantina komoditas telah dipindahtempatkan dan belum mendapat sertifikat pelepasan. Terlebih lagi hasil uji benih bawang putih asal Cina ini terdapat hama OPTK yang berbahaya,” jelas Banun.

Dengan temuan OPTK, jika benar bawang putih yang seharusnya benih dan dijadikan bawang konsumsi, maka tentu akan sangat merugikan dan membahayakan sistem pertanaman bawang putih secara nasional. Apalagi pemerintah kini tengah berupaya keras mewujudkan target agar tahun depan bisa swasembada bawang putih.

Sumber : Badan Karantina Pertanian

Be the first to comment

Leave a Reply