FAO Bantu Petani Nepal Siasati Perubahan Iklim Global

FAO bantu siasati perubahan iklim global

Pomidor.id – Ini adalah kisah tentang bagaimana perubahan iklim berpengaruh sangat besar terhadap kaum petani gurem di negara-negara dunia ketiga. Kehidupan mereka yang sudah sangat susah bertambah pelik dengan pola cuaca yang kian sulit diprediksi. Namun pendampingan yang dilakukan FAO (Food and Agriculture Organization), organisasi urusan pangan dan pertanian PBB, setidaknya dapat sedikit mengurangi berbagai masalah yang mereka hadapi akibat perubahan iklim global.

Link Banner

Tahun lalu, suami Ashmita Thapa terpaksa meninggalkan kampung halamannya di utara Nepal untuk mencari kerja di Arab Saudi. Sebelumnya, meski hanya bekerja sebagai petani, ia masih mampu menghidupi keluarganya dengan layak.

Namun kini semuanya berubah. Hasil panenan semakin sulit diharapkan.

“Ini adalah akibat perubahan iklim. Hujan tak lagi melimpah seperti dulu. Angin lebih kencang dan serangan hama semakin menghebat,” jelas Ashmita.

“Jagung yang bisa kami panen juga tak sampai separuh dari masa-masa sebelumnya,” tambahnya.

Baca Juga : Petani Afganistan Mulai Terapkan Teknologi Modern

Nepal merupakan salah satu negara yang sangat terkena dampak perubahan iklim global. Dan bisa diduga, kaum petani adalah yang paling menderita. Kemiskinan, penurunan drastis hasil panen serta sulitnya mendapatkan sumber pangan, mau tidak mau memaksa sebagian dari mereka untuk mengadu nasib meninggalkan kampung halaman. Mengadu nasib untuk mencari kehidupan yang lebih baik di tempat lain.

ashmita dan rekan2nya
(Ashmita dan rekan-rekannya memantau perkembangan tanaman yang diinsiasi program FAO dengan perangkat selular.)

Sayangnya, kepergian suaminya tidak membuat keadaan menjadi lebih mudah. Sang suami ternyata kesulitan mendapatkan pekerjaan. Padahal seiring berjalannya waktu, ia dikejar-kejar kewajiban membayar hutang untuk ongkos perjalanannya ke Arab Saudi.

“Begitu banyak masalah yang kami hadapi saat itu,” ujar Ashmita.

“Tapi di tahun yang sama, kami mendengar adanya program FAO (program tentang pelatihan para petani untuk menyiasati perubahan iklim). Tentu kami gembira karena berharap program itu bisa menjadi solusi permasalahan kami,” lanjutnya.

Dengan mengikuti program FAO, Ashmita dan sekitar 3 ribu petani belajar mengenai bagaimana membudidayakan tanaman-tanaman yang lebih mampu beradaptasi dengan dampak berubahnya iklim. Para petani didampingi menguji varietas tanaman yang berbeda dan menggunakan metode yang disesuaikan dalam menentukan tanaman apa yang terbaik untuk dibudidayakan di lahan mereka. Mereka belajar sekaligus mempraktekannya secara langsung.

Tak hanya bertani, mereka juga diajari memelihara hewan ternak yang efektif, seperti memahami apa dan kapan harus memberi makan ternak-ternak tersebut. Semuanya ini merupakan bagian dari pola pendekatan secara terpadu dan berkelanjutan yang membantu mengubah pertanian menjadi sistem yang lebih tangguh. Sehingga dengan demikian dapat mendukung pengembangannya dan memperkuat ketahanan pangan dalam menghadapi perubahan iklim global.

Baca Juga : FAO : Beri Akses Petani Kecil pada Pemanfaatan Bioteknologi

“Sebelum adanya program ini, kami harus membeli sayur-sayuran di pasar. Sekarang kami dapat menanamnya sendiri. Jadi menghemat pengeluaran,” ujar Ashmita senang.

“Kami belajar banyak dari program ini. Kami berharap lebih banyak lagi yang bisa kami pelajari ke depannya. Jika kami dapat melakukannya, tak perlu lagi susah-susah ke luar negeri untuk cari kerja,” tukas Ashmita.

FAO sendiri menyatakan bahwa program tersebut dapat terlaksana berkat dukungan dari Global Environment Facility. Dengan program ini, FAO dan seluruh mitra kerjanya membantu kaum miskin menentukan nasibnya sendiri. Merantau meninggalkan kampung halaman itu sekedar pilihan, bukan lagi keterpaksaan.

Sumber : FAO

Be the first to comment

Leave a Reply