Mulsa Organik Lebih Ramah Lingkungan

Pomidor – Meski bukan faktor paling esensial, mulsa dibutuhkan untuk pertanian karena dapat menghambat pertumbuhan rumput di sekitar tanaman inti yang dibudidayakan. Pertanian konvensional umumnya menggunakan mulsa berbahan plastik dan berwarna hitam perak. Warna perak diletakkan di atas untuk memantulkan sinar matahari. Sementara yang hitam dipasang menghadap ke bawah atau ke tanah.

Namun mengingat mulsa ini hanya digunakan untuk satu dua kali pemakaian karena plastiknya gampang molor dan robek, limbahnya seringkali hanya ditumpuk atau dibuang sembarangan. Padahal mulsa berbahan plastik ini sulit terurai di alam. Untuk menghindari kian banyaknya penumpukan bekas mulsa plastik yang tidak terpakai, sebagian praktisi pertanian kini menggunakan mulsa organik dari bekas tanaman yang ramah lingkungan.

Mulsa organik ini memanfaatkan bekas tanaman yang mudah terdaur ulang. Beberapa yang lazim dipakai sebagai mulsa organik adalah jerami, sekam padi, daun bambu kering, batang jagung atau sisa tanaman tebu yang dicacah kecil-kecil, kulit kacang, bekas tanaman kacang-kacangan, dll.

Selain mudah terurai, mulsa dari bahan-bahan organik tersebut juga memberikan nutrisi tambahan bagi tanaman yang dipelihara. Penguapan dari bawah tanah pun juga dapat ditekan sehingga kelembaban tanah terjaga.

Berdasarkan manfaatnya, ada 2 jenis tanaman yang bisa dipakai sebagai mulsa organik, yakni yang bersifat pengikat nitrogen dan pemakai nitrogen.

Mulsa organik pengikat nitrogen berfungsi mengisolasi nitrogen di udara ke dalam tanah. Tanaman yang bersifat mengikat nitrogen banyak terdapat pada jenis kacang-kacangan.

Sementara yang menjalankan fungsi sebagai pemakai nitrogen memang tidak bisa mengikat nitrogen di udara. Namun ia akan memaksimalkan penyerapan senyawa nitrogen yang sudah ada di dalam tanah ke tanaman yang dibudidayakan. Biasanya ini terdapat pada daun-daunan hijau, jerami, sekam padi, dll.

Baca juga :

Kulit Pisang Mengandung Seabrek Manfaat

Semut Rangrang Adalah Partner Anda Berkebun

Tak hanya menghambat rumput liar, mulsa organik juga memperbaiki struktur tanah yang membantu tanaman tumbuh lebih maksimal. Dekomposisi mulsa organik ini bervariasi antara 2 minggu hingga 3 bulan, tergantung pada bahan yang digunakan. Yang paling cepat hancur adalah daun-daunan hijau, sedangkan yang agak lama pembusukannya adalah dedaunan bambu kering.

Menggunakan mulsa organik terkesan sedikit ribet. Sebab harus sering-sering menumpukkan bahan-bahan baru ke beberapa tempat yang proses dekomposisinya sudah sempurna sehingga menjadi tanah. Namun tetap lebih baik menggunakan mulsa organik yang bermanfaat menambah kesuburan tanah, ketimbang mulsa plastik yang limbahnya sulit didaur ulang. Selain itu, menggunakan mulsa dari bahan-bahan organik ini juga jauh lebih murah. (inot)

Leave a Reply

%d bloggers like this: