Pelaku UMKM Harus Melek Teknologi

umkm harus melek teknologi

Pomidor.id – Para pelaku UMKM, khususnya di Kota Malang, diharapkan mampu beradaptasi atau melek terhadap perkembangan teknologi. Sebab, dengan melek teknologi para pengusaha mikro, kecil dan menengah, akan dapat bersaing dengan kompetitor-kompetitor mereka, baik itu yang berasal dari luar daerah maupun dari negara-negara lain.

Link Banner

Hal ini diungkapkan PJS (Pejabat Sementara) Walikota Malang, Wahid Wahyudi, saat membuka seminar mengenai “Pemanfaatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Dalam Peningkatan Daya Saing Produk Pertanian dan Produk Olahannya di Daerah”. Seminar yang berlangsung selama dua hari (21-22 Februari) di Hotel Atria Malang itu, merupakan kerja sama antara Kementerian Luar Negeri, Dirjen Ekonomi ASEAN, Pemerintah Kota Malang dan United States Agency for International Development (USAID).

“Tanpa penguasaan teknologi yang memadai, akan mudah membuat kita tergopoh-gopoh menghadapi persaingan di dunia usaha. Apalagi dengan persaingan yang semakin sengit saat ini, kompetitor Anda-Anda semua bukan hanya dari luar Malang, tapi juga dari negara-negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, atau bahkan Kamboja di lingkup ASEAN. Jadi kalau tidak melek teknologi, ya bakal tergilas,” tegas Wahyudi di hadapan para peserta yang mayoritas adalah pengusaha kecil dan menengah.

PJS Walikota Malang ini menambahkan, para pelaku UMKM harus keluar dari mindset berproduksi secara tradisional yang sering kali sudah tidak lagi efisien. Karena itu mereka dapat bersinergi dengan Perguruan-perguruan Tinggi yang banyak bertebaran di Kota Malang. Bentuk sinergi itu sendiri bisa bermacam-macam. Mulai dari bantuan riset, inovasi di bidang peralatan untuk menunjang produksi, hingga analisa pasar.

Baca Juga : Malang Pilot Project Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan

Hal ini diamini Dirjen Kerjasama Ekonomi ASEAN, Ade Petranto. Ia mengatakan minimnya akses pada teknologi menyulitkan pelaku UMKM untuk bersaing di tingkat global.

pjs walkot malang dengan dirjen ekonomi asean
(PJS Walikota Malang, Wahid Wahyudi, menyerahkan cindera mata kepada Dirjen Kerjasama Ekonomi ASEAN, Ade Petranto.)

“Kita ini tidak kalah dengan negara-negara tetangga. Hasil pertanian mereka sama dengan kita. Malah kita seharusnya lebih unggul karena wilayah Indonesia lebih luas dan varietas tanamannya beragam. Tapi kenapa produk-produk pertanian dan olahan mereka lebih mendunia, ya karena mereka memanfaatkan teknologi,” ujarnya.

Ade Petranto mencontohkan hal sederhana yang kerap diabaikan para pelaku UMKM dalam negeri, yakni riset pasar. Ini berbeda dengan para pengusaha kecil dan menengah di Vietnam dan Thailand, misalnya. Mereka akan melakukan survey melalui internet untuk mengetahui apa yang diinginkan konsumen sebelum berproduksi. Sehingga ketika mulai betul-betul berproduksi secara massal, mereka tidak lagi kebingungan mencari pasar.

“Selain itu, kita juga lemah di standarisasi. Produk makanan olahan UMKM kita banyak yang kurang menjaga hal ini. Padahal pasar maunya apa yang dibeli hari ini dan besok, sama persis standar kualitasnya,” lanjutnya.

Namun demikian, Ade Petranto juga tidak memungkiri bahwa sektor usaha kecil dan menengah di Indonesia sangat potensial untuk berkembang. Dari data yang dimilikinya, rasio UMKM meningkat dari 1,6% di tahun 2014, menjadi 4,48% di tahun 2017 lalu. Sekarang tinggal kerja keras semua pihak untuk meningkatkan daya kompetitif UMKM Indonesia di tingkat regional maupun global.

Be the first to comment

Leave a Reply