Nepal Larang Pendakian Solo ke Gunung Everest

Pomidor.id – Mendaki Gunung Everest, kini tak lagi semudah sebelumnya. Sebab, pemerintah Nepal baru saja mengeluarkan regulasi baru yang melarang pendakian solo dan orang dengan disabilitas untuk menaklukkan puncak tertinggi dari pegunungan Himalaya tersebut. Keselamatan pendaki adalah alasan utama di balik keluarnya regulasi.

Pemerintah Nepal hari Kamis (28/12) menyetujui dilakukannya amandemen terhadap Regulasi Ekspedisi Pendakian Gunung di bawah Undang-Undang Pariwisata sebagaimana usulan kementerian terkait. Kebijakan baru yang mengatur tentang pendakian gunung akan mulai berlaku tahun depan.

mendaki everest
(Untuk menaklukkan gunung seganas Everest amat dibutuhkan kerja sama tim.)

“Perubahan regulasi dilakukan untuk meningkatkan keamanan para pendaki dan otoritas sepenuhnya diberikan kepada Kementerian Pariwisata. Regulasi ini juga memastikan dipakainya pemandu dari Nepal dalam setiap pendakian gunung,” demikian pernyataan Sekretaris Pariwisata Nepal, Maheswor Neupane seperti dirilis The Kathmandu Post.

Salah satu perubahan besar dalam regulasi tersebut adalah kewajiban menyediakan pemandu lokal saat mendaki di pegunungan Himalaya, termasuk puncak tertingginya yang sangat terkenal, Gunung Everest. Dengan demikian, sudah tidak diperkenankan lagi adanya pendakian solo di jajaran pegunungan tersebut.

“Karena itu mulai sekarang, pendaki asing dilarang melakukan pendakian solo di Gunung Everest,” tambah Neupane.

Selain menjamin keselamatan pendaki, regulasi itu juga memberi peluang pekerjaan bagi warga Nepal yang mencari nafkah dengan menjadi pemandu gunung. Hanya saja, alasan keselamatan tetap adalah yang paling utama. Karena alasan itu pula orang buta serta orang yang tidak memiliki tangan dan kaki termasuk yang dilarang mendaki Gunung Everest.

Baca Juga : Bunga Tulip, Bunga Kehidupan Kebanggaan Belanda

Dari data Kementerian Pariwisata Nepal, jumlah pendakian solo ke Gunung Everest yang terus meningkat beberapa waktu belakangan ini, berkorelasi dengan banyaknya jatuh korban jiwa. Vladimir Strsba, 49 tahun, asal Slovakia dan Ueli Steck dari Swiss, tewas saat mendaki sendirian di bulan April dan Mei tahun 2017.

pemandu pendakian asal Nepal
(Para pemandu pendaki gunung Nepal yang berperan besar terhadap keselamatan para pendaki asing.)

Meski demikian, aturan yang juga menyasar orang-orang difabel ini bukannya tidak mengundang kritikan, terutama yang menyangkut isu diskriminasi atau pelanggaran HAM. Apalagi terbukti ada beberapa orang dengan anggota tubuh tak genap, mampu menaklukkan gunung yang dikenal sebagai atap dunia itu.

Sebut saja Erik Weihenmayer, warga AS yang menjadi orang buta pertama menginjakkan kakinya di Gunung Everest pada 25 Mei 2001. Lalu ada Mark Joseph Inglis dari Selandia Baru yang berhasil mencapai puncak pada 15 Mei walau kedua kakinya buntung. Kemudian disusul warga Kanada keturunan Nepal, Sudarshan Gautam, yang tak memiliki tangan tapi berhasil pula mencapai puncak gunung tertinggi di dunia tersebut pada 20 Mei 2013.

Namun pemerintah Nepal bergeming. Syarat mendaki gunung malah diperketat dengan pemeriksaan kesehatan menyeluruh.

“Kami telah memberlakukan ketentuan ketat untuk memeriksa surat keterangan medis para pendaki sebelum menentukan apakah mereka sehat secara fisik untuk melakukan pendakian,” ujar Neupane.

Mark Joseph Inglis
(Mark Joseph Inglis walau tak memiliki kaki namun mampu menaklukkan Everest.)

Berbagai persyaratan ketat yang diterapkan pemerintah Nepal bagi para pendaki ini sebenarnya bisa dimaklumi. Pasalnya, catatan pendakian Everest menunjukkan bahwa pendaki dengan keterbatasan fisik sering kali justru merepotkan. Mereka memperkerjakan lebih banyak pemandu untuk menopang keselamatan mereka dibandingkan dengan pendaki yang memiliki anggota tubuh lengkap. Hal ini pada akhirnya menambah potensi bahaya bagi tim karena harus membagi perhatian antara keselamatan diri sendiri dengan keselamatan orang lain.

Di sisi lain, regulasi baru ini belum menetapkan batasan usia minimal dan maksimal para pendaki. Peraturan yang berlaku selama ini hanya melarang pendaki di bawah usia 16 tahun, namun tidak ada batasan untuk usia tertinggi.

Baca Juga : Polisi India Gunakan Gajah untuk Robohkan Bangunan Liar

Di bawah regulasi yang baru pula, pemerintah Nepal akan menerbitkan sertifikat mendaki bagi pemandu serta pekerja lokal yang disewa para pendaki asing. Meski tidak diharuskan membayar kepada pemerintah, pendaki asing yang ingin menjelajahi Gunung Everest harus merogoh kocek US$ 11 ribu atau hampir Rp 150 juta untuk masing-masing pendakian sebagai royalti. Sedang biaya untuk membayar pemandu Nepal adalah 75 ribu Rupee atau Rp 15 juta lebih untuk setiap pemandu. Jadi memang bukan hobi atau kesenangan yang murah untuk mendaki Gunung Everest.

Menurut statistik Kementerian Pariwisata Nepal, sebanyak 4.879 pendaki telah mencapai puncak Everest sejak pendakian bersejarah oleh Tenzing Norgay dan Edmund Hillary pada bulan Mei 1953. Namun gunung yang selalu berselimut salju itu juga kerap memakan korban. Sejauh ini lebih dari 300 orang meninggal dalam upaya mereka menaklukkan gunung yang dalam bahasa Sansekerta disebut Sagarmatha atau Kepala Langit itu.

Leave a Reply

%d bloggers like this: