Pesanan Bibit Cabai Rawit Melonjak Jelang Musim Hujan

pesanan bibit
Pak Tris (kanan) sedang berbincang dengan pelanggan yang memesan bibit tanaman. Foto: Jasmito/Pomidor

Pomidor – Hujan beberapa hari lalu di Malang, merupakan hujan pertama di musim kemarau. Menurut sebagian petani, hujan pertama tersebut menandakan rendeng atau musim penghujan akan segera tiba. Tentu saja perkiraan tersebut tidak akurat seratus persen karena hanya pengamatan berdasarkan pengalaman. Berbeda misalnya dengan rilis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang akurasinya mendekati kenyataan.

Link Banner

Meski tanpa melihat data dari BMKG tentang datangnya musim penghujan, para petani sudah terbiasa mengambil resiko dalam kesehariannya. Termasuk menentukan jenis tanaman apa yang cocok ketika musim-musim tertentu adalah keputusan petani sendiri berdasarkan pengalaman di tahun-tahun sebelumnya. Karena menganggap musim penghujan sudah dekat, banyak petani yang memesan bibit cabai rawit ke Tris selaku penjual jasa pembibitan di sekitar Dusun Melokan, Kecamatan Jabung.

“Sekarang saya banyak antrian pesanan bibit, terutama bibit cabai rawit karena ini menjelang musim penghujan. Tetangga sebelah sudah memesan 2500 bibit. Ada lagi yang memesan 1000 bibit”, ujar Tris di lahan pembibitan miliknya, Rabu (3/10).

Antrian pesanan bibit memang tidak pernah ada jedanya. Sedangkan lahan pembibitan luasnya terbatas. Selain itu juga semua pekerjaan mulai mencari tanah, memotong plastik, dan semua pekerjaan dilakukan sendiri tanpa menggunakan jasa buruh atau tenaga bayaran.

“Ini sudah ada petakan lahan yang sudah kosong karena pagi ini diambil pemesannya. Tapi pengambilan telat beberapa hari karena masih menyiapkan lahan untuk memindah bibit. Bibit yang diambil sebenarnya sudah terlalu besar untuk dipindah,” ujar Tris.

Baca juga :

Harga Sayur Terjun Bebas, Tapi Tidak Dengan Kemangi

Duh… Senangnya Hujan di Tengah Musim Kemarau

Jasa pembibitan Tris tidak dilakukan di lahan terbuka, melainkan di bawah naungan greenhouse. Lebih mudah pengendalian hama dan mencegah kerusakan bibit akibat perubahan cuaca dan musim. Selain itu, juga mempermudah proses pembibitan meskipun musim panas maupun hujan, karena ada naungannya.

Hanya saja ada satu hal yang merisaukan pria yang pernah bertahun-tahun kerja di Kalimantan ini. Usia green housenya sudah empat tahun dan kerangkanya terbuat dari bambu petung. Pada bagian bawah sudah banyak yang lapuk dan waktunya mengganti. Belum lagi plastik yang digunakan untuk menutup atap adalah plastik biasa, bukan UV. Sehingga sangat rentan rusak. Setiap empat bulan sekali atap plastik ini harus diganti. Proses penggantian bisa memakan waktu lama karena semua proses pemasangan dikerjakan sendiri. (Ito)

Be the first to comment

Leave a Reply