Petani Afganistan Mulai Terapkan Teknologi Modern

Pomidor – Terdengar suara beraturan dalam pipa yang mengalirkan air segar di hari yang cerah, menyelingi gemuruh pompa air tenaga matahari. Seorang petani Afganistan bersenandung kecil sembari menyirami pohon-pohon di kebun apelnya. Dua pekerja tampak tertawa dan saling melempar gurauan saat mereka melembutkan tanah di sekitar pepohonan.

Abdul Azim, 27 tahun, seorang petani Afganistan kini dapat mengairi kebun buahnya di desa Zarshakh berkat pompa air tenaga surya yang belum lama dipasang. Zarshakh, desa yang dihuni sekitar seribu KK, sebelumnya adalah salah satu desa paling tandus di distrik Paghman yang berada di sebelah timur Propinsi Kabul. Padahal penduduk di desa itu banyak menggantungkan hidup mereka pada sektor pertanian hortikultura. Sulitnya memperoleh air, membuat mereka nyaris tidak dapat menikmati hasil dari ladang atau kebun mereka. Beberapa keluarga seperti Abdul Azim, mengelola perkebunan yang seringkali sulit untuk dijadikan sebagai sumber penghasilan utama.

Namun pada bulan Maret tahun lalu, Proyek Hortikultura dan Peternakan Nasional (NHLP) yang disokong Bank Dunia, mengulurkan bantuan dengan menggali sumur air dan memasangkan pompa air tenaga surya untuk Azim. Proyek tersebut selesai dalam waktu singkat. Di bulan Juni 2016, pompa air sudah bisa dioperasikan. Total biaya untuk pembuatan pompa sekitar 670.000 afghanis (sekitar Rp 130 juta). 75% dari total biaya dibantu NHLP, sedang sisanya ditanggung Azim.

“Kami dulu menghabiskan 300.000 afghanis (sekitar Rp 70 juta) setiap tahun membeli bahan bakar untuk generator ke pompa listrik demi mendapatkan air untuk kebun-kebun kami,” kata Azim seperti dikutip dari worldbank.org.

“Dengan pemasangan pompa air tenaga surya, saya bisa menyimpan semua uang itu. Malah untuk pertama kalinya di desa ini, saya memiliki cukup banyak air untuk irigasi.”

Dengan adanya pompa air ini, Azim dapat memperluas kebunnya dari 1,4 menjadi 2,4 hektar.

“Sebelumnya, tanah kami ini sangat gersang. Saya bahkan tidak bisa menyediakan sayur mayur secara rutin di meja makan. Tapi sekarang, untuk kami sudah amat berlebih dan saya sering membagi-bagikannya kepada tetangga,” tambahnya sambil tersenyum.

Sementara bagi Alaudin, 45 tahun, penerapan teknologi juga mempermudah baginya untuk mengurus kebun buah-buahannya. Alaudin yang tinggal di desa Nangabad, 25 kilometer dari kota Herat, memang menggantungkan hidupnya dari berkebun. Begitu pula dengan warga di desanya yang rata-rata adalah petani anggur. Buah-buah anggur yang dihasilkan desa ini banyak yang dikeringkan dulu menjadi kismis sebelum dijual di pasar di kota Herat.

“Dulu kami menggunakan rumah pengeringan kismis tradisional yang butuh waktu lama agar anggur mengering menjadi kismis. Kualitasnya tidak bagus dan banyak buah anggur kami yang membusuk,” kata Alaudin.

“Namun kini dengan menggunakan rumah pengeringan yang lebih modern, warna dan kualitas kismis kami telah meningkat. Hanya sedikit debu yang menempel dan jumlah yang bisa dijadikan kismis juga jauh lebih banyak dalam waktu singkat,” Alaudin menjelaskan.

Baca juga ;

PBB Bekali Keterampilan Bertani untuk Para Pengungsi Suriah

Puluhan Ribu Petani India Bunuh Diri Akibat Perubahan Iklim

Rumah pengeringan modern juga dibangun di bawah supervisi NHLP yang dilaksanakan oleh Kementrian Pertanian, Irigasi dan Peternakan Afganistan. Dengan bantuan hibah sebesar US $100 juta, NHLP berusaha meningkatkan produktivitas seluruh produk hortikultura dan turunannya.

Kismis, atau anggur yang sudah dikeringkan.

Proyek tersebut bertujuan untuk mempromosikan penerapan teknologi untuk meningkatkan produktivitas petani Afganistan. Saat ini ada 120 distrik dari 23 propinsi yang sudah mendapat bantuan NHLP. Jumlah tersebut akan terus bertambah secara bertahap.

Pembangunan rumah pengeringan modern di propinsi Herat cukup signifikan menaikkan pendapatan petani. Kismis yang dikeringkan secara tradisional, selain warna dan kualitasnya buruk, juga dihargai murah di pasaran. Sedangkan kismis yang dikeringkan dengan peralatan modern, mutunya lebih bagus dan harganya lebih mahal 10 sampai 15 afganis per kilogramnya.

Insinyur dari NHLP, Mohammad Yosuf Ghoriani menjelaskan bahwa upaya NHLP telah membuat banyak kebun tradisional di Afganistan bertransformasi menjadi kebun yang lebih modern. Kebun-kebun tersebut menerapkan metode bertanam yang memanfaatkan teknologi serta tanaman yang lebih baik. Sehingga pada akhirnya menghasilkan produk yang juga lebih berkualitas. (inot)  

Leave a Reply

%d bloggers like this: