Peningkatan Produksi Coklat Berkorelasi dengan Deforestasi

Pomidor.id – Lonjakan permintaan pasar internasional terhadap coklat, secara langsung berdampak pada deforestasi atau menurunnya luas hutan tropis di sejumlah negara produsen kakao, bahan baku utama produksi coklat. Terus beralih fungsinya hutan tropis yang bekerja sebagai paru-paru dunia ini, dikhawatirkan akan semakin memperparah perubahan iklim secara global.

Menurut data Yayasan Kakao Dunia (World Cocoa Foundation), lebih dari lima juta petani kakao di negara-negara seperti Indonesia, Brazil, Pantai Gading, Ghana dan Kamerun, memproduksi sekitar 4,5 juta ton biji kakao setiap tahunnya. Pantai Gading dan Ghana merupakan dua produsen terbesar yang menyuplai lebih dari 70 persen kebutuhan kakao dunia.

penggundulan hutan untuk perkebunan kakao
(Perluasan perkebunan kakao sebagai bahan baku coklat, mengakibatkan penggundulan hutan di wilayah Pantai Gading. Negara yang terletak di belahan barat Afrika itu sampai saat ini merupakan salah satu produsen kakao terbesar di dunia.)

Sama halnya kopi, kakao adalah hasil perkebunan yang berorientasi ekspor dan memiliki pangsa pasar yang sangat luas di negara-negara maju. Namun biji kakao yang digunakan untuk produksi coklat, nyaris hanya bisa tumbuh di negara-negara berkembang yang tersebar di wilayah Afrika Barat, Asia dan Amerika Selatan. Ironisnya, permintaan pasar dalam negeri di negara-negara penghasil kakao tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan permintaan pasar internasional secara keseluruhan.

Baca Juga : Milyaran Penduduk Bumi Kesulitan Air Bersih

Hal ini pada akhirnya memunculkan sejumlah masalah ketimpangan sosial, ekonomi dan lingkungan dalam produksi tanaman mewah ini. Dalam sebuah liputan investigasi yang dilakukan reporter BBC Panorama, Paul Kenyon, beberapa tahun lalu, terlihat jelas adanya indikasi perdagangan manusia dan perbudakan anak pada mata rantai produksi kakao. Khususnya di negara-negara Afrika.

pekerja anak di perkebunan kakao
(Eksploitasi pekerja di bawah umur di perkebunan kakao di Pantai Gading.)

Dalam liputannya, Paul Kenyon menyuguhkan fakta bahwa sebagian besar petani kakao hidup dalam kemiskinan ekstrem. Hanya sekitar 3 persen dari harga setiap coklat yang kita beli yang masuk ke kantong petani kakao. Selebihnya dibuat bancakan oleh para pengepul, tengkulak, hingga pabrik-pabrik besar. Bahkan hypermarket-hypermarket raksasa pun tak mau ketinggalan menikmati legitnya bisnis ini dengan menyediakan konter khusus yang menawarkan aneka macam olahan coklat yang harganya terkadang tak masuk akal saking mahalnya.

Ketidakadilan tersebut masih berlangsung hingga hari ini. Semakin banyak orang yang mengkonsumsi coklat, semakin banyak komunitas petani kakao yang tereksploitasi dan menderita.

Yang lebih menyesakkan, ada korelasi langsung antara lonjakan produksi coklat dengan penyusutan luas lahan hutan tropis di negara-negara berkembang. Perkebunan kakao yang berorientasi ekspor akan meningkatkan laju deforestasi atau pengalihan fungsi hutan secara besar-besaran di seluruh negara produsen.

Hal ini diungkapkan oleh Mark Noble, seorang asisten profesor tamu di bidang sosiologi dan antropologi di Universitas Lehigh, Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia menyoroti produksi coklat yang sudah “menunjukkan kecenderungan merusak karena kian besarnya permintaan dan perubahan drastis pada budidayanya”. Padahal dulu produksi coklat dianggap tidak berdampak signifikan pada kerusakan hutan.

“Saya terkejut melihat kenyataan bahwa ekspor kakao berkaitan erat dengan deforestasi yang begitu cepat dalam waktu 20 tahun,” kata Mark Noble.

Ia menilai tekanan untuk meningkatkan ekspor kakao berperan dalam perubahan pola cuaca dan menyebabkan merosotnya harga kakao. Selain itu, perkebunan kakao yang terus dibuka menghasilkan model pertanian monokultur. Pertanian monokultur adalah praktik pertanian yang dari tahun ke tahun hanya membudidayakan satu jenis tanaman di lahan yang teramat luas. Model pertanian semacam ini dalam jangka waktu yang terlalu lama, sesungguhnya dapat berakibat buruk bagi lingkungan.

pekerja di perkebunan kakao di ghana
(Buruh perkebunaan kakao di Ghana.)

Dampak Produksi Coklat dan Kopi

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa negara-negara yang berambisi mengejar pertumbuhan ekonomi dengan bergantung pada ekspor hasil perkebunan dan pertanian secara berlebihan, sering kali mengabaikan konsekuensinya terhadap masalah sosial dan lingkungan. Begitu pula dengan coklat dan kopi yang terus digenjot produktivitasnya beberapa tahun belakangan.

“Meningkatnya permintaan akan produksi coklat dan kopi serta pertumbuhan industri yang menopangnya, menyebabkan banyaknya hutan yang beralih fungsi menjadi perkebunan. Hal ini tidak pernah terjadi pada beberapa dekade sebelumnya,” jelas Noble.

Ia menambahkan, kebiasaan konsumen di negara maju banyak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan di wilayah lain yang secara geografis sangat jauh.

“(Bagi petani) kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya tidaklah sepadan dengan penjualan produk (kakao) ini,” tegas Noble.

Baca Juga : LSM Lingkungan Gagas Penghijauan Gurun Sahara

Prakarsa Kakao dan Hutan

Pada bulan Maret tahun lalu, Unit Internasional Pembangunan Berkelanjutan yang diinisiasi Prince of Wales, bekerja sama dengan Yayasan Kakao Dunia yang didukung pula oleh komunitas perusahaan produsen coklat, meluncurkan Prakarsa Kakao dan Hutan. Prakarsa tersebut berupaya “mengakhiri deforestasi dan degradasi hutan di mata rantai pasokan kakao global”. Fokus awal gerakan ini adalah di Pantai Gading dan Ghana, dua negara produsen kakao terbesar di dunia.

Indonesia produsen kakao terbesar ketiga di dunia
(Para pekerja di perkebunan kakao di Sulawesi. Indonesia merupakan negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia setelah Ghana dan Pantai Gading. Meski tidak separah dua negara Afrika tersebut, namun jika ambisi meraup devisa dari ekspor biji kakao tidak dikendalikan dengan regulasi yang tegas, Indonesia juga terancam mengalami deforestasi dalam skala masif.)

Dua belas produsen coklat terkemuka, termasuk di antaranya Ferrero, Godiva Chocolatier, Inc., Mars Chocolate, Nestlé, Lindt & Sprüngli Group dan The Hershey Corporation, bersedia menandatangani prakarsa tersebut. Kesediaan belasan perusahaan raksasa ini merupakan hal yang sangat positif. Sebab, ini adalah pertama kalinya tercapai komitmen kolektif industri produsen coklat untuk secara khusus menghentikan deforestasi. Dengan demikian, laju penggundulan hutan untuk diubah menjadi perkebunan kakao dapat dikurangi secara drastis.

Leave a Reply

%d bloggers like this: