Rinik Odachi, Produsen Abon Kelinci dari Pagelaran

Rinik odachi produsen abon kelinci

Pomidor.id – Dari sekian banyak makanan olahan abon, abon berbahan dasar kelinci belumlah terlalu populer di masyarakat. Masih kalah dengan abon sapi, ayam atau bahkan abon lele. Namun bagi Rinik Odachi, belum populer bukan berarti tidak ada potensinya. Abon kelinci bahkan sangat berpotensi untuk berkembang. Karena tak hanya baik bagi kesehatan, bahan baku untuk membuatnya menjadi abon juga relatif melimpah.

Link Banner

Rinik Odachi adalah seorang pelaku usaha kecil dan menengah yang membuat makanan olahan abon kelinci. Ia memproduksi abon kelincinya di rumahnya di Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang.

“Sudah dua tahun ini saya membuat abon kelinci. Cara membuatnya tak beda dengan abon-abon daging lainnya. Cuma karena daging kelinci rendah lemak dan seratnya lebih halus, pengolahannya untuk jadi abon juga harus agak hati-hati,” kata Rinik saat ditemui di rumahnya Minggu (11/2).

Baca Juga : Siswandi, dari Bisnis Anggrek ke Budidaya Kelinci

Rinik mengakui, awalnya memang tidak mudah memproduksi produk abon dari daging kelinci. Bukan soal teknis pembuatannya, namun lebih ke pemasarannya. Tidak semua orang mau mengkonsumsi kelinci, sekali pun itu sudah berupa makanan olahan seperti abon. Barangkali image kelinci sebagai hewan yang imut nan lucu membuat sebagian orang tak tega mengkonsumsinya.

abon kelinci
(Abon kelinci Odachi produksi Rinik.)

“Dulu memasarkannya ya di sekitar Malang saja. Kalau pun ada yang pesen dari luar kota, paling-paling dari Surabaya atau Sidoarjo. Tapi Alhamdulillah sekarang tambah banyak yang kenal produk saya. Beberapa hari lalu saya baru saja kirim ke Jakarta. Ada pesanan dari sana,” ujar Rinik.

Meski mempunyai peternakan kelinci sendiri, namun tidak semuanya diolah menjadi abon. Ada juga yang dijual anakan. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan produksi, selain dari ternaknya sendiri, Rinik juga mendapat pasokan dari para peternak kelinci yang hendak meremajakan indukannya. Kelinci-kelinci yang sudah tidak produktif alias sudah lewat masa suburnya itulah yang menjadi bahan baku pembuatan abon.

“Kelinci-kelinci afkiran (sudah tidak produktif lagi) ini sayang kalau hanya dijual sebagai kelinci potong. Kan lebih baik diolah jadi abon. Selain daya tahannya lebih lama, juga mudah dikemas,” terangnya.

Rinik mengakui dibandingkan abon sapi, abon kelinci harganya sedikit lebih mahal. Penjualannya pun tak secepat abon sapi. Kecuali ada pesanan khusus, ia tak mau membuat terlalu banyak dalam satu kali produksi. Paling banter sekali produksi ia hanya memotong 5-6 kelinci. Namun tidak menutup kemungkinan yang dipotong lebih banyak lagi jika abon kelinci nantinya betul-betul bisa semakin diterima pasar layaknya abon-abon daging lainnya.

“Kendala yang sering dihadapi pelaku usaha kecil seperti saya ini ya memang di pemasaran. Karena itu saya aktif ikut kalau ada pameran UMKM, khususnya yang diadakan di wilayah Malang Raya. Ya sekalian promosi lah,” tambah Rinik seraya tersenyum.

kelinci rinik
(Selain dagingnya diolah menjadi abon, limbah kelinci juga dapat dimanfaatkan untuk penyubur tanaman.)

Baca Juga : Kopi Mazedo, Kopi Herbal untuk Kesehatan

Lebih jauh Rinik menjelaskan, keuntungan dari budidaya kelinci adalah limbahnya bisa dimanfaatkan untuk penyubur tanaman. Jika mau sedikit bersusah payah mengolahnya, urin dan kotoran kelinci bahkan memiliki nilai tambah secara ekonomis.

“Sebelumnya urin kelinci yang masih murni dihargai seribu rupiah per liternya. Tapi setelah difermentasi, harganya jadi sebelas ribu per liter. Kalau kotorannya (feses) saya manfaatkan sendiri untuk pupuk tanaman sayur-sayuran saya,” lanjut Rinik.

Selain budidaya kelinci dan membuat aneka abon seperti abon sapi, abon tuna dan abon ayam, Rinik juga aktif di Kelompok Tani Wanita (KWT) di desanya. Ia mengorganisir sejumlah tetangganya untuk menanam aneka sayuran.

Hasil panen sayur-sayuran tersebut kemudian disetorkannya ke Hari, seorang petani organik di kawasan Sukun, Kota Malang. KWT yang dikelolanya bisa memanen sayur dua hingga tiga kali dalam seminggu.

Be the first to comment

Leave a Reply