Sarjana Pertanian IPB Pulang Kampung untuk Bangun Desanya

Pomidor.id – Tak semua sarjana pertanian enggan berkotor-kotor dengan tanah seusai menamatkan pendidikannya. Meski jarang terekspose, banyak sebenarnya lulusan perguruan tinggi jurusan pertanian yang rela melepas peluang bekerja dengan penghasilan melimpah demi angan-angan membangun daerahnya. Salah satunya adalah Saein, seorang sarjana IPB yang memutuskan pulang kampung untuk memajukan pertanian di desanya.

Dulu, sebelum menentukan kampus pilihan pasca lulus SMA, Saein sudah bertekad setelah lulus kuliah nanti, apapun yang terjadi, ia akan kembali ke desanya di Kecamatan Bukateja, Purbalingga. Baginya kelak ketika sudah menjadi sarjana pertanian, ilmu pengetahuan adalah kebaikan dan bisa dibagikan mulai dari yang terdekat, yaitu tetangga di kampung halaman.

Saein di terima di Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan lulus tahun 1995. Setelah lulus sebagai sarjana pertanian, Saein bekerja sebagai staf peneliti di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi, Subang, Jawa Barat selama satu tahun.

Setelah kontrak sebagai staf peneliti selesai, tahun 1996 Saein kembali ke IPB untuk menjadi staf peneliti juga. Di almamaternya itu, ia ditempatkan untuk meneliti hama penyakit pada bawang merah di Cirebon dan Pangalengan.

“Di sana, interaksi dengan masyarakat lebih banyak,” katanya.

Ternyata, meski menikmati proses penelitian, hati Saein belum sepenuhnya puas dalam kegiatannya di laboratorium, rumah kaca, seminar, dan membuat jurnal. Ia merasa ada yang kurang di dalam hatinya.

“Saya tidak pernah tahu seberapa besar manfaat penelitian yang sudah saya lakukan,” katanya beberapa waktu lalu.

Atas dasar tekadnya sebelum kuliah dan keresahannya itu, Saein memutuskan kembali ke kampung halamannya pada akhir 1998. Ia pulang ke rumah orang tua dan memutuskan menjadi petani.

Banyak yang berseloroh kepada Saein seperti, “Sekolah tinggi, kerja di sawah. Jadi petani kan gak mesti kuliah.”

Saein biasa saja menanggapinya. Ia sudah siap dengan pernyataan seperti itu. Tekadnya kembali ke desa adalah untuk menerapkan ilmu yang ia dapat agar bisa diaplikasikan langsung oleh petani di kampung halamannya.

Ketika menjadi petani, sawah menjadi laboratorium Saein. Ia menyilangkan berbagai varietas unggul untuk mendapatkan varietas padi yang ia harapkan. Saein mencoba menyilangkan hasil persilangan Padi Pandanwangi dan Padi Wulung kemudian disilangkan dengan Padi Bengawan.

Hasilnya, pada 2005 Saein berhasil menemukan varietas padi baru yang ia beri nama Padi Mutiara. Keunggulan Padi Mutiara adalah hemat pupuk dan tahan terhadap penyakit busuk daun.

“Padi Mutiara bisa hemat pupuk sampai 50 persen,” kata Saein.

Kekuatan padi varietas ini juga berdampak baik terhadap penggunaan bahan kimia.

“Tahan terhadap penyakit busuk daun akhirnya mengurangi penggunaan pestisida,” tambahnya.

Di samping menjadi petani, Saein juga membagi ilmu yang ia dapat kepada petani dengan bergabung ke kelompok tani di desanya. Di sana, ia bisa berbagi informasi dan pengalaman bersama petani lain mengenai pertanian. Ia menyuarakan agar memulai pertanian ramah lingkungan dengan mengurangi bahan kimia di dalam pertanian. Acap kali ia dan kelompok taninya juga bisa berbagi dengan kelompok tani lain. Saein menikmati semua proses itu.

Itu pula yang membawanya menjadi penyuluh bantu di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di Purbalingga sejak 2007. Sebagai penyuluh lulusan sarjana pertanian, Saein menuliskan pengetahuan yang ia punya untuk dijadikan materi penyuluhan terkait pertanian.

Tahun 2012, Saein kembali menemukan varietas padi baru yang ia beri nama Padi Mustikasari. Berkat temuan dan dedikasinya terhadap pertanian, Saein pernah diundang ke Istana Negara pada tahun 2012 untuk menerima penghargaan Penyuluh Bantu Teladan. Ada pula penghargaan lain yang diberikan kepada Saein antara lain Liputan 6 Awards 2011 pada kategori inovasi dan penghargaan dari Yayasan Kehati pada kategori Cipta Lestari Kehati tahun 2009.

Baca juga :

Semangat Susi Berhembus Hingga ke Gunung Buring

Pengolahan Limbah Ternak Sapi, Bisnis Berwawasan Lingkungan

Sampai saat ini, di usianya yang ke 47, Saein masih hidup dari dan untuk pertanian. Ia saat ini bekerja sebagai penyuluh bantu di BPP di Kecamatan Kaligondang, Purbalingga. Setiap akhir pekan, ia pergi ke Bukateja untuk merawat sawah milik keluarganya sambil melakukan riset versi dirinya.

“Dengan menjadi petani (dan penyuluh) saya bisa melakukan pengamatan langsung. Riset tidak harus mahal,” katanya sambil tersenyum.

Padi temuan Saein, saat ini disebarkan melalui jaringan petani di kelompok tani. Hasil temuannya itu terkendala biaya untuk mendapat sertifikat benih karena biaya untuk mengurus hal tersebut butuh biaya yang tidak sedikit.

“Yang penting, hasil penemuan saya bisa langsung ke petani,” katanya. (Sucipto Cipto)

(Sumber)

Leave a Reply

%d bloggers like this: