Sistem Pertanian Tradisional di Asia Tengah Dukung Pertanian Berkelanjutan

Sistem Pertanian Tradisional di Asia Tengah Dukung Pertanian Berkelanjutan
(Sistem pertanian tradisional yang lebih bersahabat dengan alam, dapat berfungsi sebagai role model pertanian berkelanjutan di tengah iklim yang terus berubah. Image : FAO)
Pomidor.id – Warisan sistem pertanian tradisional di negara-negara Asia Tengah membantu menjaga keanekaragaman hayati serta melestarikan sumber daya genetik untuk pertanian pangan. Sistem ini dianggap juga meningkatkan kemampuan bertahan menghadapi efek perubahan iklim.

Dalam rilisnya, FAO mendukung diterapkannya sistem pertanian tradisional karena mendukung pertanian berkelanjutan. Badan Pangan dan Pertanian PBB itu juga meluncurkan program sistem warisan pertanian global, GIAHS (Globally Important Agricultural Heritage Systems).

Dalam sebuah event yang digelar pada awal Juli ini di Batumi (Georgia), topik pembahasan utama adalah tentang sistem pertanian berkelanjutan di Eropa dan Asia Tengah. Terutama yang berbasis pertanian tradisional. Event tersebut dihadiri perwakilan dari delapan negara, Azerbaijan, Georgia, Kazakhstan, Tajikistan, Bosnia-Herzegovina, Spanyol, Italia dan Montenegro.

Muat Lebih

 border=

“Sistem pertanian tradisional yang unik ini dapat menjadi role model pertanian global di tengah-tengah iklim yang terus mengalami perubahan,” ujar spesialis pertanian FAO, Tanya Santivanez. Santivanez adalah penanggung jawab program komprehensif regional FAO untuk pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.

Baca Juga : Pertanian Konservasi Bantu Petani Kecil Atasi Perubahan Iklim

Dialog dalam event diharapkan akan mengarah pada penciptaan jaringan regional tentang sistem warisan pertanian di dunia untuk memperluas pengetahuan di negara-negara peserta. Secara umum, juga untuk memperkuat kerja sama regional dalam beradaptasi dengan perubahan iklim baik di Eropa maupun Asia Tengah.

“Salah satu hasil dari event ini adalah pengembangan road map regional yang akan membantu mempromosikan dimasukannya isu-isu GIAHS dalam pengambilan kebijakan politik di tingkat regional,” kata Santivanez.

“Data mengenai metode pelestarian warisan pertanian tradisional dan adaptasi bertahap terhadap perubahan iklim nantinya akan diterapkan secara luas oleh negara-negara di kawasan. Hal ini demi mengatasi masalah terkait perubahan iklim dan keamanan pangan untuk generasi mendatang,” tambahnya.

Baca Juga : FAO Umumkan 14 Situs Pertanian Baru Warisan Dunia

Saat ini, enam situs GIAHS berlokasi di Eropa, dua di Italia, tiga di Spanyol dan satu di Portugal. Ke depan, situs-situs GIAHS diharapkan menyebar ke Asia Tengah dan tempat-tempat lain di seluruh dunia.

Melalui Program GIAHS, FAO menargetkan ada kontribusi signifikan pada kehidupan sosial, ekonomi dan lingkungan sesuai dengan SDGs (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan). Pengetahuan tradisional musti ditingkatkan kapasitasnya agar mampu beradaptasi dengan perubahan iklim.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan