New York Sahkan RUU Larangan Penjualan Foie Gras

New York Sahkan RUU Larangan Penjualan Foie Gras
(Foie gras, makanan khas asal Perancis yang terbuat dari hati angsa. Namun untuk menyajikan sepiring makanan mewah ini, harus ditebus dengan penderitaan angsa yang terus menerus dicekoki makanan di sepanjang hidupnya. Image : Shutterstock)
Pomidor.id – Dewan Kota New York hari Rabu lalu mengesahkan rancangan undang-undang yang melarang restoran dan toko waralaba menjual foei gras, hati angsa yang digemukkan secara paksa untuk konsumsi manusia. UU ini disambut sukacita kelompok aktivis yang mengecam kekejaman terhadap binatang.

RUU yang akan ditandatangani oleh Walikota Bill de Blasio, efektif melarang penjualan foie gras mulai tahun 2022.

Sebagai informasi, foie gras adalah kuliner khas Perancis yang terbuat hati angsa. Meski tergolong hidangan mewah, namun makanan yang sudah eksis berabad-abad yang lalu ini mengundang kontroversi karena membutuhkan proses panjang dan ribet. Yang menjadi sorotan adalah penderitaan yang harus dilalui angsa-angsa sebelum hati mereka diambil untuk dihidangkan di atas meja kaum berduit.

Muat Lebih

Proses pembuatan foie gras ialah memaksa angsa makan terus menerus dengan memasang pipa logam yang mengalirkan makanan melewati tenggorokan ke perutnya. Kejamnya, angsa ditempatkan dalam sebuah kandang yang sangat sempit yang membuat hewan ini berada pada satu posisi hampir sepanjang hidupnya. Selain kaki yang bengkak, angsa nyaris tak pernah tidur karena dicekoki makanan setiap saat. Namun justru itu tujuannya. Dengan tak banyak bergerak, makanan yang diberikan sebagian besar menjadi lemak, termasuk hatinya.

Karena prosesnya yang dinilai teramat menyiksa angsa itulah, foie gras sudah dilarang di berbagai negara seperti India, Jerman, italia, Australia, Turki, dll. Di Amerika Serikat sendiri, Chicago dan California sudah resmi melarang penjualan foie gras.

Maka ketika New York menyusul, kabar ini segera direspon positif oleh kelompok aktivis dan penyayang binatang. Dalam pemungutan suara, 42 menyetujui pelarangan penjualan foie gras, sementara hanya 6 yang menentangnya. RUU ini juga menyebutkan denda setidaknya USD 2.000 untuk setiap pelanggaran.

Baca Juga : Cabut dari IWC, Jepang Kembali Lanjutkan Tradisi Perburuan Ikan Paus

Tentu saja kabar ini tidak mengenakkan bagi sekitar 1.000 restoran di New York yang memiliki menu foie gras.

“Aneh-aneh saja. Pemikiran dangkal yang tidak memahami situasi,” cuit David Chang, seorang chef di jaringan restoran Momofuku, dalam akun twitternya.

Hal senada diungkapkan Ken Oringer, co-owner dan chef di restoran Toro Manhattan yang memiliki menu andalan sandwich foie gras. Ia menganggap larangan penjualan hati angsa yang digemukkan sebagai sesuatu yang konyol dan mengada-ada. t

Ia juga mengatakan menghormati para peternak produsen di Catskill Mountain, sekitar dua jam perjalanan dari utara New York. Menurutnya, para peternak memperlakukan angsa-angsa mereka dengan “integritas” tinggi dan tidak ada kesengajaan menyiksa hewan-hewan tersebut.

Di pinggiran Kota New York ada dua peternakan besar angsa, yakni di Hudson Valley dan La Belle Farm. Dua peternakan ini memelihara sekitar 350 ribu angsa khusus untuk foie gras. Hati unggas-ungggas tersebut dibesarkan hingga 10 kali lipat dari ukuran normal. Bisnis ini menghasilkan tak kurang dari USD 15 juta/tahun. Harga eceran foei gras adalah USD 125 (Rp 1.754.000)/potong.

Angsa Dicekoki Makanan
(Praktik kejam mencekoki angsa dengan pipa logam melalui tenggorokannya. Pemaksaan makanan ini dimaksudkan agar hati angsa membesar hingga 10 kali lipat untuk sajian kuliner mewah, foie gras. Image : CNBC)

Baca Juga : Penangkaran Gurita untuk Konsumsi Tak Etis dan Bahayakan Ekologi

Larangan Dewan Kota New York berimplikasi tak kecil bagi dua peternakan itu karena kota berjuluk Big Apple ini merupakan pasar utama foie gras di AS. Efek domino lainnya menimpa petani jagung dan pedagang kecil yang terkait dengan bisnis foei gras. Belum lagi dengan nasib 400 pekerja imigran yang terancam kehilangan pekerjaan dengan ditutupnya kedua peternakan angsa tersebut.

Namun bagi Matthew Dominguez, penasehat Organisasi Animal Rights, pelarangan penjualan foei gras adalah sesuatu yang sudah semestinya dilakukan jauh-jauh hari. Apalagi organisasinya sudah lama menentang perlakuan kejam terhadap binatang. Tak terkecuali angsa yang dibesarkan paksa hanya sekedar untuk dikonsumsi hatinya.

“Salut untuk dewan kota yang menghentikan praktik biadab mencekoki angsa demi foie gras,” tegasnya dalam cuitan di twitter.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan