Penggunaan Aplikasi Smartphone Permudah Klaim Asuransi Pertanian

Penggunaan Aplikasi Smartphone Permudah Klaim Asuransi Pertanian
(Penggunaan aplikasi smartphone dapat mengukur secara pasti tingkat kerugian akibat gagal panen sehingga memudahkan klaim asuransi. Image : Hortidaily)
Pomidor.id – Di tahun 2015, Pemerintah Indonesia memulai program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Program asuransi untuk sektor pertanian, khususnya untuk tanaman padi ini, diharapkan dapat memberi perlindungan terhadap resiko bencana alam seperti banjir, kekeringan atau perlindungan dari serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Meski menguntungkan petani, namun AUTP juga banyak kendala. Beberapa kendala tersebut di antaranya adalah sosialisasi yang kurang maksimal, pendataan petani yang masih manual (by name by adress), segi teknologi serta prosedur klaim asuransi pertanian yang harus melibatkan PPL setempat.

Peran Petugas Penyuluh Lapangan ini sangat vital. Tanpa rekomendasi mereka, klaim asuransi pertanian tak bisa diajukan ke PT Jasindo melalui Dinas Pertanian Kota/Kabupaten.

Muat Lebih

 border=

Sebenarnya kendala yang mirip-mirip terkait asuransi pertanian juga dialami Kenya. Namun negara di Afrika itu menyiasatinya dengan meluncurkan proyek yang bertujuan melatih para petani menggunakan smartphone untuk memetakan kondisi tanaman mereka.

Cara ini dapat memverifikasi ketika gagal panen oleh berbagai sebab sehingga memudahkan mereka menerima kompensasi. Cara ini juga dinilai lebih murah dan efektif daripada menggunakan skema yang biasa digunakan berdasarkan citra satelit atau mengandalkan petugas yang datang langsung ke lapangan.

Sebelumnya, yang banyak digunakan kalangan petani kecil adalah asuransi tanaman “berbasis indeks”. Skema ini sangat bergantung pada citra satelit yang menggeneralisir suatu wilayah tertentu. Bisa mencakup hingga ribuan petani, ketika dilanda cuaca ekstrim.

Baca Juga : BPPT : Teknologi AI Bisa untuk Sektor Pertanian hingga Mitigasi Bencana

Menurut Pusat Peneltian Pembangunan Internasional Kanada (IDRC), penggunaan pemetaan satelit ini hasilnya kurang berjalan baik bagi banyak petani kecil. Pasalnya, data yang dikumpulkan areanya terlalu luas.

“Penggunaan citra satelit efektif untuk mendeteksi kekeringan atau banjir di wilayah yang luas. Namun tidak untuk mengukur secara akurat curah hujan di tingkat lokal,” kata Jemimah Njuki, tenaga ahli IDRC di bidang pertanian dan lingkungan.

“Saat data satelit menunjukkan suatu daerah memiliki curah hujan yang cukup, beberapa petani yang mengalami gagal panen akibat iklim mikro (kekeringan) tidak diberi pembayaran asuransi. Kesal, akhirnya mereka memilih keluar dari asuransi,” imbuhnya.

Untungnya ada solusi lain yang ditawarkan ke sejumlah desa, yakni menggunakan aplikasi smartphone. Para petani diajarkan bagaimana mengambil foto tanah mereka, mulai dari sebelum tanaman ditanam hingga dipanen. Begitu pula dengan saat tanaman mereka rusak akibat cuaca ekstrim.

Mengambil Gambar Tanah dan Tanaman
(Mengambil gambar tanah dan tanaman di masa tanam dapat mendeteksi penyebab kerugian jika terjadi gagal panen. Image : Farm Meets Table)

Baca Juga : Aplikasi Sipindo Bantu Petani Pilih Pupuk Hingga Prediksi Cuaca

Gambar tanah dan lahan yang diambil dari smartphone nantinya akan diverifikasi. Kemudian diberikan kepada otoritas terkait dan agen asuransi sehingga dapat diputuskan dengan lebih tepat petani mana yang menderita kerugian akibat gagal panen.

Data dari gambar juga memungkinkan untuk menentukan apakah gagal panen karena terlalu banyak atau terlalu sedikit curah hujan. Pun demikian untuk kerugian karena serangan hama dan penyakit.

“Penggunaan aplikasi smartphone ini diharapkan dapat membantu sekitar 50 ribu petani,” kata Jemimah kepada Reuters.

Ia menambahkan, proyek ini adalah hasil kerja sama Organisasi Penelitian Pertanian dan Peternakan Kenya (KALRO) dengan pihak asuransi ACRE Afrika.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan