ADB : 22 Juta Orang Indonesia Masih Menderita Kelaparan Akut

ADB : 22 Juta Orang Indonesia Masih Menderita Kelaparan Akut
(Kasus kelaparan di desa terpencil di Maluku beberapa waktu lalu. Akses pangan yang tidak merata juga turut andil menyebabkan banyak orang Indonesia yang masih menderita kelaparan. Image : BPBD Kabupaten Maluku Tengah)
Pomidor.id – Dalam laporan terbarunya, Asian Developmetn Banks (ADB) merilis data tak kurang dari 22 juta penduduk Indonesia menderita kelaparan akut selama 2016-2018. Meski angka ini berkurang separuhnya dibanding periode sebelumnya, namun hal ini tetap mengkhawatirkan. Pasalnya, 22 juta orang itu mendekati angka 10 persen dari jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan.

Pada laporan tersebut ADB merekomendasikan pemerintah mengubah strategi dalam memperbaiki kinerja ekonomi untuk meningkatkan ketahanan pangan serta terus mengurangi jumlah penduduk yang kelaparan.

Laporan berjudul “Policies to Support Investment Requirements of Indonesia’s Food and Agriculture Development During 2020-2045” tersebut merupakan kerja sama ADB dengann International Food Policy Research Institute (IFPRI) dan Kementerian PPN/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Muat Lebih

ADB menyebutkan bahwa sektor pertanian di Indonesia memang berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir. Meski demikian, masih banyak yang bekerja di sektor pertanian tradisional, di mana petani dibayar rendah dengan produktivitas yang juga rendah. Hal ini dinilai menjadi penyebab banyak orang di Indonesia menderita kelaparan akut.

“Banyak dari mereka tidak mendapat makanan yang cukup dan anak-anak mereka cenderung stunting. Pada 2016-2018, sekitar 22 juta orang di Indonesia menderita kelaparan,” demikian laporan yang dipublikasikan dalam resmi ADB akhir Oktober lalu.

Baca Juga : Jangan Abaikan Penurunan Daya Beli Petani dan Kenaikan Harga Pangan

Berbeda dengan sektor industri dan jasa yang terus meningkat, kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi nasional justru terus menurun. Pada tahun 1975, sektor pertanian masih menyumbang 30 persen. Di tahun 1985, menyusut menjadi 23 persen. Trend penurunan berlanjut pada 2010 menjadi 15,3 persen dan 13,1 persen di tahun 2017.

Hal ini diperburuk dengan akses ketahanan pangan yang tidak merata di Indonesia, sehingga kerawanan pangan tetap menjadi masalah.

Sebagai informasi, di Indonesia menduduki posisi ke-65 dalam Indeks Keamanan Pangan Global (GFSI) yang diterbitkan EIU (Economist Intelligence Unit). Untuk kawasan regional, Indonesia masih di bawah Singapura (1), Malaysia (40), Thailand (54) dan Vietnam (62).

Baca Juga : Banyak Tantangan ASEAN untuk Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Untuk menghapus kelaparan di tahun 2045, ADB menyarankan Pemerintah RI menggenjot investasinya di bidang pertanian untuk memodernisasi sistem dan pasar pangan agar lebih efisien. Selain itu, diperlukan pula kebijakan realokasi subsidi pupuk, peningkatan investasi untuk penelitian pertanian, pembenahan infrastruktur pedesaan serta jaringan irigasi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan