Telur Ayam Ras dan Cabai Rawit Penyebab Deflasi di Kota Malang

Telur Ayam Ras dan Cabai Rawit Penyebab Deflasi di Kota Malang
(Telur kembali menjadi penyebab deflasi Bulan Oktober di Kota Malang. Image : Pomidor)
Pomidor.id – Berdasarkan pantauan Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Malang pada Bulan Oktober 2019 tercatat masih mengalami deflasi -0,04 persen dengan dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 136.90. Penurunan pada kelompok bahan makanan menjadi komponen utama penyebab deflasi di Kota Malang.

“Deflasi di kota Malang disebabkan terjadinya penurunan harga pada kelompok bahan makanan. Terutama komoditi telur ayam ras, cabe rawit dan daging ayam rasa. Disusul pisang, bawang merah, bawang putih, kacang panjang, daging ayam kampung dan jagung manis,” jelas kepala BPS kota Malang, Sunaryo, di kantor BPS kota Malang, Jumat (1/11/2019).

Disampaikan oleh Sunaryo, penurunan harga telur ayam ras sebesar 9,16 persen dan cabai rawit sebanyak 16,54 persen, memberikan andil paling besar penyebab terjadinya deflasi di kota Malang yakni dengan andil -0,0655 persen.

Muat Lebih

Penurunan harga di beberapa komoditas bahan makanan tersebut disinyalir karena masyarakat Kota Malang yang mengkonsumsi juga relatif banyak. Dan hingga bulan Oktober ini, bahan makanan terus menunjukkan trend penurunan harga.

Menurutnya, jika pada kelompok bahan pokok menunjukkan angka kenaikan, pasti akan menyebabkan bobot atau kontribusi kenaikan inflasi. Akan tetapi pada kali ini sampai dengan bulan Oktober ternyata bahan makanan menunjukkan penurunan, sehingga yang terjadi justru deflasi.

“Dengan tidak adanya kenaikan dengan andil yang stabil di kelompok bahan makanan, menandakan ketersediaan bahan pokok terjaga. Ini yang perlu dipertahankan,” ucapnya.

Pemaparan Deflasi di Kantor BPS Kota Malang
(Kepala Badan Pusat Statistik Kota Malang, Sunaryo, saat memaparkan deflasi di kantor BPS Kota Malang, Jumat (1/11). Image : Pomidor)

Baca Juga : Kemarau Panjang Pengaruhi Kenaikan Harga Bahan Pangan

Kaitannya dengan kemarau panjang seperti pada pola-pola inflasi di bulan setelah bulan Oktober, yakni bulan November dan Desember. Jika nantinya terjadi inflasi sangat wajar, karena dampak dari kemarau dan juga menjelang akhir tahun.

“Jadi pada bulan November ini yang perlu diwaspadai adalah bagaimana menyediakan stok pangan yang cukup. Sehingga ini bisa mengantisipasi dampak dari kemarau panjang dan menyongsong akhir tahun,” pungkasnya. (ANC)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan