border=

Inovasi Budidaya Alpukat Hemat Air 15 Hingga 30 Persen

Inovasi Budidaya Alpukat Hemat Air 15 Hingga 30 Persen
(Alpukat termasuk tanaman yang boros air. Namun berbagai inovasi dalam budidayanya, dapat menghemat penggunaan air antara 15 hingga 30 persen. Image : Semana)
Pomidor.id – Organisasi Alpukat Dunia (WAO) belum lama ini merilis laporan yang menyatakan bahwa teknologi dan inovasi budidaya alpukat secara terus menerus dapat menghemat air. Sehingga untuk menghasilkan satu kilogram buah ini dibutuhkan tak lebih dari 600-700 liter air. Meski masih terhitung rakus air, namun diperkirakan di masa-masa mendatang alpukat dapat dibudidayakan dengan metode yang tak terlalu menghamburkan banyak air.

Menurut WAO, pengurangan ini merupakan langkah penting dalam penghematan air. Pasalnya, tanaman alpukat merupakan tanaman yang sangat boros air. Untuk menghasilkan satu kilogram alpukat, rata-rata dibutuhkan air antara 800 hingga 1.000 liter. Hal ini tentu saja menggelisahkan mengingat alpukat adalah komoditas pertanian yang terus meningkat permintaannya di seluruh dunia sehingga perluasan perkebunan alpukat secara global tak dapat dihindari.

Dari penelitian yang dilakukan IME (Institution of Mechanical Engineers), dibandingkan dengan dua komoditas buah populer lainnya, pisang dan apel, alpukat lebih rakus air. Satu kilogram pisang membutuhkan 790 liter air, sementara satu kilogram apel membutuhkan air 822 liter.

Muat Lebih

 border=

Namun dibandingkan daging sapi dan coklat, alpukat masih kalah jauh. Untuk menghasilkan satu kilogram daging sapi dan coklat masing-masing membutuhkan air 15 ribu liter dan 17 ribu liter.

Baca Juga : Ekspansi Perkebunan Alpukat Timbulkan Masalah Lingkungan

Tanaman alpukat sendiri sebenarnya mampu beradaptasi dengan aneka zona iklim di seluruh dunia. Berbagai inovasi dalam budidaya alpukat terus menerus dilakukan untuk menghemat penggunaan air sesuai dengan kondisi geografisnya.

Di Kolombia dan Meksiko, misalnya, tingginya curah hujan memudahkan budidayanya. Pembuatan sistem irigasi yang njlimet tak terlalu diperlukan di wilayah ini.

Sedang perkebunan alpukat komersial di Afrika Selatan, sebagian besarnya menggunakan sistem irigasi yang efisien. Hal yang sama juga dilakukan di kawasan minim air seperti di gurun. Israel menggunakan desalinasi air laut dan pengolahan air limbah untuk mengairi perkebunan-perkebunan alpukatnya.

Lain halnya dengan Peru. Kebutuhan air untuk perkebunan alpukatnya diambil dari air yang mencair dari salju di pegunungan Andes.

Baca Juga : Indonesia Buka Peluang Ekspor Alpukat ke Jepang

Di Indonesia, yang bukan termasuk pemain utama dalam perdagangan global alpukat, tanamannya dibudidayakan dengan metode yang tidak seragam. Umumnya tanaman alpukat tumbuh di pekarangan atau kebun warga dengan kepemilikan jumlah pohon bervariasi sehingga belum dapat dikatakan masuk dalam skala industri. Dengan demikian sistem pengairannya pun bergantung pada kearifan warga lokal.

Sentra produsen alpukat di Indonesia di antaranya adalah Pasuruan, Probolinggo, Malang, Bogor, Lampung, Garut, dan beberapa daerah dataran tinggi lainnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan